|
(Oleh : Sayadaw U Janaka
Alih Bahasa Inggris – Indonesia : Samuel B. Harsojo,
Editor : Chandasili Nunuk Y. Kusmiana,
Edisi Pertama, Cetakan Pertama, Medio Juli 2003)
KANDUNGAN
BAB I
Pengantar Metta Bhavana
BAB II
JHANA-JHANA
BAB III
ANAPANASATI
MEDITASI SAMATHA
ATAU
MEDITASI VIPASSANA ?
BAB I

Pengantar Metta Bhavana
Pertama-tama kita akan membicarakan meditasi metta bhavana agar
anda dapat mempraktekkan meditasi cinta kasih dengan baik. Praktek
meditasi metta adalah dasar untuk melanjutkan ke latihan
meditasi vipassana, bila suatu saat hal itu diperlukan.
Didalam sutta Bhikkhunupasaya, Sang Buddha mengatakan, saat
berlatih meditasi vipassana sementara pikiran sedang kacau
seperti; pikiran dibanjiri oleh kilesa (kekotoran batin), batin
bergolak oleh kilesa tersebut serta muncul keenganan untuk
melanjutkan latihan, maka pada saat demikian anda perlu mengganti obyek
(meditasi) dengan obyek-obyek yang “menyenangkan”. Objek-objek yang
menyenangkan itu seperti merenungkan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan
yang dimiliki oleh Sang Buddha, Dhamma atau Sangha. Bisa pula dengan
merenungkan dana-dana yang sudah anda lakukan atau penegakkan sila dalam
kehidupan sehari-hari.
Awalnya anda perlu menggunakan obyek-obyek yang “menyenangkan” ini
sebagai obyek meditasi dan melakukan perenungan atas obyek-obyek
tersebut. Lalu secara bertahap pikiran dapat dikonsentrasikan pada obyek.
Hal ini menimbulkan kegembiraan, ketenangan dan kedamaian. Pada saat
pikiran telah terkonsentrasi dengan baik anda dapat kembali ke meditasi
Vipassana. Praktek ini disebut Panidhaya Bhavana.
Artinya anda menyadari pikiran yang dikonsentrasikan ke obyek-obyek yang
menyenangkan untuk kemudian kembali ke meditasi vipassana.
Salah satu obyek yang dapat digunakan oleh pemeditasi saat pikirannya
dibanjiri kekuatiran, kesedihan, kekacauan, dan keengganan, adalah
metta (cinta kasih).
Menggunakan obyek perenungan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan Sang
Buddha merupakan hal yang sangat baik. Namun untuk hal ini harus
didukung oleh pengetahuan akan kemuliaan dan kebijaksanaan yang Sang
Buddha miliki. Sehingga anda dapat merenungkan dengan baik. Bila tidak,
tentunya anda tidak dapat menggunakan obyek perenungan sifat-sifat luhur
dan kebijaksanaan Sang Buddha sebagai obyek.
Lain halnya dengan metta. Untuk menggunakan obyek metta
tidak diperlukan pengetahuan khusus tentangnya. Karena metta (cinta
kasih) merupakan sifat bawaan yang dibawa sejak lahir oleh makhluk hidup
pada umumnya. Maka obyek ini dapat dikembangkan dengan mudah bila anda
mengetahui caranya.
I. 1. Perbedaan Metta dan Tanha
Di Burma,
orang-orang menggunakan kata metta yang merujuk kepada
tanha, kemelekatan. Saat seorang pria jatuh cinta pada seorang
gadis, dikatakan pria itu mencintai sang gadis. Pria ini memiliki
metta terhadap si gadis. Ini bukanlah metta. Tapi
keterikatan.
Maka dari itu saat mendiskusikan metta bhavana, anda perlu
mengenal secara jelas arti dari metta tersebut. Juga mengetahui
perbedaan serta karakteristik yang dimiliki oleh tanha.
Tanha memiliki sifat kemelekatan dan bersifat “panas”. Sedang
metta sebaliknya. Metta sama sekali tidak memiliki
kemelekatan dan mengharapkan kebahagiaan makhluk hidup lain serta
membuat pikiran menjadi tenang dan damai.
Di belahan dunia barat, hal itu bukanlah masalah. Sebab mereka tidak
menggunakan kata metta yang merujuk kepada tanha. Ini
merupakan sesuatu yang mudah untuk dijelaskan.
Tahun 1979 saat membimbing praktek meditasi untuk Kelompok Meditasi
Vipassana (Insight Meditation Society) bersama Yang Mulia Mahasi Sayadaw,
dalam sesi tanya-jawab, seorang pemeditasi wanita yang berumur sekitar
30 tahun mengajukan pertanyaan, “apa itu cinta?”
Bagaimana saya harus menjawab pertanyaan ini? Saya tidak dapat berbuat
apa-apa. Tentu akan mudah untuk mengatakan, “Ya, cinta itu adalah Tuhan”.
Tetapi jika saya menjawab demikian berarti saya adalah seorang Kristen.
Akhirnya saya menjawab demikian, “Ya, kamu bertanya kepada saya mengenai
apa itu cinta. Saya tidak tahu apa itu cinta. Yang saya dapat jelaskan
adalah cinta kasih”. Tetapi wanita ini hanya ingin mengetahui makna
cinta, bukan cinta kasih.
Istilah metta disini merujuk kepada suatu pengharapan agar
semua makhluk hidup dipenuhi oleh kesejahteraan dan kebahagiaan.
Hita kara puti lakkhana metta. Saat kita mengembangkan perasaan
atau semangat cinta kasih (metta) kepada semua makhluk hidup,
ini disebut metta bhavana. Pemikiran bahwa metta dapat
dikirimkan ke semua makhluk hidup berkembang di Burma, Sri lanka, India
dan juga di negara-negara Barat. Sebagian kaum terpelajar menggunakan
istilah “mengirim”.
“Anda harus mengirimkan cinta kasih anda pada semua makhluk hidup.”
Inilah metta bhavana menurut mereka. Sebagian lagi memakai
istilah “memancarkan”. “Anda harus memancarkan cinta kasih pada semua
makhluk hidup.”
Jika anda tidak mengembangkan cinta kasih sepenuhnya dalam diri sendiri,
bagaimana anda dapat mengirimkannya ke pada makhluk hidup lain?
Bagaimana anda memancarkannya ke makhluk hidup lain? Bila perasaan atau
semangat cinta kasih dalam diri anda sangat berlimpah, anda tidak perlu
mengirimkannya ke makhluk hidup lain. Sebab pikiran yang penuh cinta
kasih itu akan bekerja dengan sendirinya.
Katakanlah saat anda mengharapkan kesejahteraan makhluk hidup lain dan
kemudian anda memiliki metta. Jika metta telah
berkembang dalam diri anda, wajah anda akan tampak menyenangkan,
menunjukkan suasana hati yang gembira, ramah dan agung.
Dengan kekuatan metta, cinta kasih dalam diri anda, maka setiap
orang yang anda temui akan merasakan hal itu. Dia akan gembira berjumpa
dengan anda. Wajah anda menampakkan kedamaian dan ketenangan. Anda tidak
perlu mengirimkan cinta kasih itu pada orang tersebut. Pikiran akan
mengirimkannya secara otomatis. Inilah kekuatan cinta kasih kepada
makhluk hidup.
Di Burma, orang sering mengatakan, “Kirimkanlah metta kepada si
anu.” Kadang orang awam yang sedang mengalami kesulitan berkata demikian,
“Bhante, tolong kirimkan metta anda kepada saya yang sedang
dalam kesulitan ini.” Inilah ide mengirim metta kepada orang
lain. Karenanya jika kami mengatakan, “Anda harus berlatih meditasi
metta bhavana”, maka mereka beranggapan bahwa anda harus mengirim
metta kepada orang lain.
I. 2. Kesalahpahaman tentang Metta Bhavana
Sebenarnya
mengembangkan cinta kasih bukanlah kepada orang lain, melainkan kepada
diri anda sendiri. Semangat cinta kasih dapat dikembangkan melalui
pengharapan kebahagiaan pada makhluk hidup, orang lain. Tanpa
merenungkan kebahagiaan makhluk hidup lain, anda tidak dapat
mengembangkan cinta kasih dalam diri anda. Jadi, cinta kasih ini hanya
dapat dikembangkan melalui perenungan atas kebahagiaan makhluk hidup
lain.
Hal ini menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang. Mereka mengira
ini berarti kita mengirimkan metta kepada orang lain. Tetapi
pada kenyataannya metta ditumbuhkan dalam diri melalui
perenungan akan kebahagiaan makhluk hidup lain. Inilah mengapa disebut
metta bhavana. Bhavana berarti mengembangkan. Dan
metta memiliki makna cinta kasih.
Dengan demikian untuk mengembangkan metta pada diri sendiri,
anda harus mengambil seseorang, sekelompok atau seluruh makhluk hidup
sebagai obyek meditasi (metta), dan mengucapkan kata-kata
berikut berulang-ulang dalam pikiran “Semoga semua makhluk berbahagia,
penuh kedamaian, bebas dari kebencian, kesukaran dan penderitaan…” dan
seterusnya. Dengan hal ini anda merasakan cinta kasih anda kepada orang
atau mahkluk hidup lain.
Jadi, dengan mempraktekkan meditasi metta, mengembangkan cinta
kasih dalam batin, kita merasa bahagia, damai dan tenang. Pikiran
terkonsentrasi, kokoh dan lunak. Inilah hasil atau keuntungan yang
diperoleh dari mengembangkan metta kepada diri sendiri. Setelah
itu anda dapat berpindah ke meditasi vipassana.
Anda dapat berkonsentrasi pada obyek-obyek didalam meditasi
vipassana dengan mudah sebab telah memiliki konsentrasi yang kokoh
sebagai hasil dari latihan meditasi metta. Konsentrasi tersebut
dapat “disalurkan” ke meditasi vipassana.
Saya ingat pada sekelompok orang dari Switzerland yang mengunakan kata “disalurkan”.
Itu berlangsung pada tahun 1983. Pada saat itu Lebanon dalam masalah
besar, perang saudara.
Orang-orang tersebut meminta saya untuk menerangkan metta bhavana.
Lalu saya bertanya pada mereka, “Sudahkan anda berlatih (meditasi)
metta bhavana?”
Mereka menjawab, “Kami ‘menyalurkan’ cinta kasih kepada orang-orang di
Lebanon.” Menyalurkan cinta kasih. Apa yang dimaksud dengan
“menyalurkan” ? Dari yang saya ketahui, kata saluran berhubungan dengan
irigasi (pengairan).
Ketika mengembangkan cinta kasih pada diri anda, didapati dua jenis
cinta kasih. Yakni cinta kasih yang bersifat khusus dan umum. Pada
metta yang khusus, obyek dipilih. Kemudian anda mengharapkan
kebahagiaan pada orang yang dipilih secara khusus ini. Lalu pikiran
cinta kasih ditujukan kepadanya. Bukan kepada orang lain. Misalnya saya
memilih U Samiddhi sebagai obyek meditasi. Maka saya mengucapkan (dalam
batin) dan merenungkan kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan beliau.
“Semoga U Samiddhi berbahagia, bebas dari kebencian, kesukaran dan
penderitaan. Semoga beliau mendapatkan kemajuan dan pencerahan dalam
dhamma.” Dan lain sebagainya.”
Saya hanya merenungkan kebahagiaan beliau bukan orang lain. Inilah yang
dimaksud dengan pengembangan khusus dalam metta, cinta kasih.
Sementara pengembangan cinta kasih umum adalah perenungan terhadap
kesejahteraan semua makhluk hidup, baik itu binatang, dewa, brahma, peta,
setan kelaparan, dan lain sebagainya. Anda merenungkan kesejahteraan
mereka dan berkata (dalam batin), ”Semoga semua makhluk hidup berbahagia
dan diliputi oleh kedamaian. Semoga mereka semua terbebas dari kebencian,
kesukaran, dan berbagai penderitaan. Semoga mereka semua mendapat
kemajuan.” Dan lain sebagainya. Metta seperti ini tidaklah
bersifat khusus. Inilah pengembangan cinta kasih umum yang dalam bahasa
Pali dikenal dengan Anodhisa Metta. Sementara
metta yang bersifat khusus disebut Odhisa Metta.
I. 3. Obyek-obyek Metta Bhavana
Obyek yang
digunakan dalam pengembangan metta yang bersifat umum adalah
semua makhluk hidup. Cara ini akan menimbulkan kesulitan bagi anda untuk
memusatkan pikiran secara penuh kepada obyek tersebut.
Maka, bila anda ingin mengembangkan cinta kasih, perenungan terhadap
kesejahteraan semua makhluk hidup merupakan obyek yang sangat baik.
Namun pikiran akan sulit terkonsentrasi. Anda dapat merasakan cinta
kasih, kebahagiaan dan kedamaian berkembang dalam diri anda. Tetapi
pikiran tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dikarenakan obyek yang
digunakan sangat banyak.
Jadi, bila anda ingin dapat berkonsentrasi dengan baik saat berlatih
meditasi metta, obyek yang digunakan harus yang bersifat khusus.
Seperti misalnya memakai obyek seseorang yang anda kenal dan hanya
merenungkan kesejahteraannya. Yang perlu diperhatikan saat menggunakan
obyek manusia atau sekelompok manusia (seperti ditulis dalam
Visuddhimagga) bahwa anda tidak seharusnya secara langsung
menujukan cinta kasih kepada seseorang yang anda cintai di awal latihan.
Bila hal ini dilakukan, dimana anda belum memiliki ketrampilan dalam
mengembangkan cinta kasih, akan timbul kesulitan untuk berkonsentrasi.
Kadang anda teringat akan ketidakberuntungannya, penderitaan yang
terjadi baik secara batin maupun jasmani. Akibatnya anda akan merasa
tidak bahagia.
Dalam Visuddhimagga disebutkan, anda bahkan akan menangis
karena penderitaan yang dialami oleh orang yang anda cintai. Oleh sebab
itu sebaiknya tidak menggunakan seseorang yang anda cintai untuk
dijadikan sebagai obyek dalam pengembangan metta.
Ada obyek lainnya lagi, yaitu obyek yang netral. Ada contoh menarik di
sini untuk menjelaskan objek netral itu seperti apa. Anda tidak
mencintai atau membencinya. Tapi ia merupakan kenalan anda. Saat dalam
perjalanan ke tempat kerja anda bertemu dan menyapanya. Lalu anda
berpikir,”Saya akan bekerja. Demikian pula dengan orang ini.” Lambat
laun ia menjadi kenalan anda. Kalian berdua saling tahu. Itu saja. Tidak
lebih dari itu. Kalian berdua tidak saling berkunjung ke rumah
masing-masing. Pertemuan hanya terjadi jika anda dalam perjalanan ke
tempat kerja. Inilah yang dimaksud dengan orang yang netral.
Ada sebuah cerita lain tentang seorang Burma kaya yang tinggal di
Inggris. Namanya U Mya Saw. Ia membeli rumah yang sangat besar dengan
luas tanah sekitar 30 are. Kantornya ada di London tapi ia tinggal di
Oxford. Setiap hari ia pergi ke kantor dengan kereta api. Ia selalu
duduk pada gerbong dan tempat duduk yang sama. Setiap hari mereka (para
penumpang) bertemu dengan orang-orang yang sama. Ini berlangsung selama
10 tahun. Tapi tidak terjadi pertemanan di antara mereka.
Tahun 1981 saya membimbing latihan meditasi di bagian utara Inggris, di
Institut Manjusri, dekat Ebersten, sebuah kota kecil. Ada tiga atau
empat wanita tua datang ke tempat latihan tersebut, mendengarkan diskusi
dhamma dan bercakap-cakap dengan saya hampir setiap hari.
Suatu hari, salah seorang dari mereka bercerita mengenai tempat
tinggalnya di London. Ia tinggal di sana selama 20 tahun, tapi tidak
mengenal para tetangganya. Demikian pula para tetangga itu tidak
mengenalnya. Lalu ia pindah ke Ebersten. Dalam kurun waktu 5 tahun ia
hampir mengenal semua orang di kota itu. Katanya, ”Kehidupan di kota
kecil sungguh menyenangkan sementara di kota besar amat tragis.”
Para kenalan ini bukanlah satu-satunya obyek dalam latihan pengembangan
cinta kasih. Dalam Visuddhimagga dikatakan, jika anda
menempatkan orang netral ini sebagai seseorang yang anda cintai, akan
sulit bagi anda untuk mengembangkan cinta kasih. Jadi, anda tidak
seharusnya menggunakan obyek seseorang yang netral dalam permulaan
latihan meditasi pengembangan cinta kasih tersebut.
Namun, seiring dengan berjalannya waktu, dimana anda sudah cukup
memiliki ketrampilan dalam latihan metta ini, anda bisa
menggunakan obyek orang yang netral. Pada saat ini Anda dapat
melakukannya dengan mudah.
Selain itu yang perlu diingat adalah obyek orang yang bermusuhan dengan
anda sebaiknya tidak digunakan pula pada masa awal latihan. Sebab, saat
anda merenungkan kesejahteraannya, anda akan mengalami kesulitan dan
yang timbul adalah ingatan bagaimana ia telah menyakiti dan menghina
anda. Akibatnya, bukan metta yang dapat dikembangkan, tapi
kemarahan dan kebencian yang muncul. Melihat hal ini sebaiknya orang
yang bermusuhan dengan anda tidak dijadikan obyek dalam pengembangan
Metta pada masa awal berlatih.
Dalam Visuddhimagga juga dijelaskan untuk tidak menggunakan
obyek lawan jenis. Dalam hal ini ada cerita tentang seorang pria yang
mengembangkan cinta kasih kepada istrinya. Ia sangat ingin mempraktekkan
meditasi metta. Untuk itu ia meminta seorang bhikkhu yang
berpindapatta ke rumahnya agar mengajarkan meditasi metta
tersebut. “Bhante, saya ingin mempraktekkan meditasi cinta kasih. Saya
ingin mengembangkan cinta kasih kepada orang-orang yang saya cintai.”
Bhikkhu tesebut menjawab demikian “Dayaka, orang-orang yang sangat kamu
cintai dapat dijadikan obyek meditasi.”
Malam harinya, ia menyiapkan diri untuk berlatih meditasi metta.
Ia membersihkan dirinya dan memakai baju baru. Bersujud pada patung Sang
Buddha dan merenungkan sifat-sifat luhur dan kebijaksanaan beliau. Lalu
ia duduk di ruangannya. Ia duduk dengan rilek dan mencari obyek meditasi.
Ia berpikir, “Siapakah orang yang paling saya cintai?” Kemudian ia
teringat akan istri yang sangat dicintainya dan berkesimpulan bahwa
istrinya dapat dijadikan obyek meditasi. Mulailah ia merenungkan
kesejahteraan dan kebahagiaan istrinya.
Awalnya ia dapat membangkitkan cinta kasih dalam dirinya. Selanjutnya
cinta kasih itu menjadi semakin lemah dan melemah, berubah menjadi hal
lainnya. Saat itu ia tidak dapat bertahan lagi dan bangkit berdiri.
Pintu ruangan tersebut terkunci. Tapi ia lupa telah berbuat itu (mengunci
pintu). Yang dilakukan selanjutnya adalah memukuli tembok. Cerita
tersebut berhenti sampai disini. Visuddhimagga tidak
menjelaskan kejadian selanjutnya. Berdasar hal ini obyek lawan jenis
sebaiknya tidak dipakai untuk mengembangkan metta.
Tetapi apa yang saya alami berbeda dengan cerita di atas. Beberapa murid
saya dapat mempraktekkan meditasi cinta kasih dengan baik meski
menggunakan obyek yang berlainan jenis kelaminnya dengan mereka. Mereka
berhasil mengembangkan cinta kasih kepada lawan jenisnya.
Contohnya, seorang wanita yang bekerja sebagai pengawas di sebuah bank
datang untuk berlatih meditasi vipassana selama 2 bulan.
Setelah itu ia melanjutkan latihannya dengan meditasi metta.
Dikatakan dalam Visuddhimagga, anda dapat langsung menujukan
cinta kasih kepada pembimbing atau seseorang yang memiliki kualitas
setara dengan pembimbing tersebut. Selanjutnya metta dapat
ditujukan kepada orang yang anda sayangi, orang yang netral dan akhirnya
orang yang bermusuhan dengan anda.
Anda dapat mengembangkan cinta kasih sampai dicapai kondisi pikiran yang
lunak dan mudah diarahkan. Dengan kondisi pikiran yang demikian, anda
dapat mengembangkan cinta kasih tersebut kepada orang yang anda tuju
dengan lebih mudah. Saya memberinya (wanita itu) petunjuk untuk
mengembangkan cinta kasih kepada orang-orang tersebut satu demi satu.
Setelah menjalani 20 hari latihan, saya berkata padanya, “Sekarang kamu
dapat mengarahkan cinta kasih kepada orang yang bermusuhan denganmu.
Apakah kamu punya musuh?” Lalu ia ingat bahwa pimpinannya (seorang pria)
selalu mencari-cari kesalahan yang ada pada dirinya. Sehingga timbul
perasaan tidak suka dalam dirinya terhadap atasannya tersebut. Maka,
saya memintanya untuk menujukan metta kepada si atasan itu.
Iapun melakukannya dan mencapai keberhasilan.
Seminggu kemudian saya menyuruhnya merenungkan kesejahteraan dan
kebahagiaan atasannya tersebut. Iapun melakukannya. Setelah itu ia
kembali pulang ke rumahnya.
Suatu hari wanita ini datang ke tempat latihan dan berkata pada saya,
“Bhante, atasan saya sebelumnya tidak pernah mengunjungi rumah saya
sebelum saya mempraktekkan meditasi. Selama masa saya berlatih meditasi
ia telah berkunjung ke rumah dan bertanya kepada saudara saya mengenai
keadaan saya. Ia berkunjung dua kali. Ketika saya kembali ke kantor, ia
menemui saya dengan wajah yang ramah. Ia tidak lagi mencari-cari
kesalahan saya. Bahkan ia sekarang banyak membantu.”
Visuddhimagga mengatakan, lawan jenis tidak seharusnya
dijadikan obyek meditasi. Namun bukan hanya wanita pada cerita di atas
yang berhasil, tapi juga 3 – 4 pemeditasi lainnya juga berhasil
menujukan cinta kasih mereka kepada seseorang yang berlainan jenis
kelaminnya.
Saya berkesimpulan, bahwa apa yang diceritakan atau diajarkan dalam
Visuddhimagga, yang berbeda dengan yang dialami oleh para murid
saya, penggunaan obyek lawan jenis sebaiknya tidak dilakukan bila anda
belum mampu atau trampil dalam mengembangkan cinta kasih tersebut. Namun,
bila anda telah menguasai latihan/pengembangan metta ini, anda
dapat menujukan cinta kasih anda kepada siapa saja.
Juga obyek orang yang sudah meninggal seharusnya tidak digunakan dalam
pengembangan metta. Lebih jauh dikatakan (dalam
Visuddhimagga), apabila pemeditasi mengembangkan cinta kasihnya
pada obyek orang yang sudah meninggal ini, ia tidak akan mampu
berkonsentrasi, apalagi memperkokoh konsentrasinya. Jadi, orang yang
sudah meninggal sebaiknya tidak dijadikan obyek khusus dalam
mengembangkan metta.
Orang yang sudah meninggal ini mungkin terlahir kembali di alam dewa,
brahma atau manusia. Dalam hal ini anda dapat menjadikannya sebagai
obyek umum dan mengarahkan cinta kasih tersebut kepadanya. Tetapi yang
dibahas dalam Visuddhimagga adalah orang yang sudah meninggal
dalam kategori khusus.
Diceritakan dalam Visuddhimagga tentang seorang bhikkhu muda
yang mengarahkan cinta kasihnya kepada uphajaya, gurunya. Saat
ia mengembangkan metta dan merenungkan kesejahteraan dan
kebahagiaan gurunya yang tinggal berjauhan dengannya, ia tidak dapat
mengonsentrasikan pikirannya.
Ia terus mencoba tapi tetap tidak membawa hasil. Akhirnya ia pergi
menemui bhikkhu senior, seorang arahat (orang yang telah berhasil
membebaskan dirinya dari lobha, dosa, moha) yang tinggal dekat
dengannya dan menyampaikan permasalahan yang dihadapinya. Bhikkhu senior
itu menyarankannya untuk mencari tahu mengenai keadaan gurunya. Itu saja.
Maka pergilah bhikkhu muda ini mengunjungi tempat gurunya. Dan
mengetahui bahwa sang guru telah meninggal. Inilah sebabnya, menurut
Visuddhimagga, bhikkhu muda itu tidak dapat berkonsentrasi dengan
baik. Obyek yang dipilihnya, yaitu sang guru, telah meninggal dunia.
Kalau demikian, siapa yang seharusnya menjadi obyek pengembangan
metta? Menurut Visuddhimagga, obyek utama meditasi cinta
kasih adalah guru atau seseorang yang dihormati seperti halnya guru
tersebut.
Anda dapat memilih seseorang dan menujukan metta kepadanya.
Merenungkan kebahagiaan dan kesejahteraannya. “Semoga guru saya (atau
orang baik ini) berbahagia, dipenuhi kedamaian, bebas dari kebencian
maupun kesukaran. Semoga beliau mendapat kemajuan.”
Setelah itu anda dapat dengan mudah mengembangkan semangat cinta kasih
dalam diri anda secara bertahap dan berlimpah. Lakukan hal itu
berulang-ulang hingga pikiran dapat terkonsentrasi ke obyek meditasi
dengan baik dan mencapai jhana I, II, III dan seterusnya.
Kitab komentar (Visuddhimagga) mengatakan bahwa orang pertama
yang dapat dijadikan obyek dalam meditasi metta adalah guru
atau seseorang seperti guru tersebut. Orang yang patut dihormati,
dimuliakan oleh sila, samadhi dan panna (kebijaksanaan).
Seseorang yang suci pikirannya.
Orang dengan karakteristik seperti ini dapat dijadikan obyek utama pada
meditasi cinta kasih yang bersifat khusus. Ini dikarenakan anda memiliki
rasa hormat terhadap orang yang berbudi luhur dan murah hati itu.
Sehingga akan memudahkan anda untuk mengembangkan semangat cinta kasih
dan mengarahkannya ke orang tersebut.
Meski demikian, kitab komentar (Visuddhimagga) juga mengatakan,
yang paling utama dari semuanya itu adalah anda mengarahkan cinta kasih,
metta kepada diri sendiri. Dan melakukan perenungan seperti ini,
“Semoga saya terbebas dari segala penderitaan. Semoga saya berbahagia,
diliputi kedamaian, bebas dari berbagai kesukaran dan kebencian.”
Dengan cara ini anda mengarahkan cinta kasih ke diri sendiri untuk
beberapa saat, mungkin 1 – 2 menit. Setelah itu anda dapat mengarahkan
Metta kepada guru atau orang yang anda hormati dan melakukan
perenungan demikian, “Seperti halnya saya ingin terbebas dari segala
penderitaan, demikian jugalah guru (atau orang yang baik ini) terbebas
dari segala penderitaan pula. Seperti halnya saya yang ingin terbebas
dari permusuhan, demikian juga dengan guru (atau orang baik ini)
terbebas dari segala permusuhan. Seperti halnya yang lain ingin terbebas
dari segala kesulitan, demikian juga guru (atau orang yang baik ini)
terbebas dari segala kesukaran.” Dan seterusnya.
Setelah 1 – 2 menit, kata-kata “seperti halnya saya” tidak usah dipakai
lagi. Anda dapat meneruskannya dengan “Semoga guru saya terbebas dari
permusuhan, kebencian, kesukaran dan berbagai penderitaan.” Dan
seterusnya. Mengarahkan cinta kasih anda kepada guru atau orang yang
anda hormati itu.
I. 4. Sensasi-sensasi
Anda tidak
perlu mencoba mengingat wajah atau bentuk tubuh dari obyek meditasi
tersebut. Bentuk wajah atau tubuh dari obyek itu mungkin muncul mungkin
juga tidak. Yang penting adalah anda tidak berusaha menggambarkan bentuk
wajah atau tubuh tersebut dalam pikiran. Sebab hal itu sama sekali tidak
penting.
Yang terutama adalah merasakan metta tumbuh dan berkembang
dalam diri anda. Serta merenungkan keluhuran dan kesejahteraan orang
tersebut.
Kadang saat anda berusaha menggambarkan bentuk tubuh atau wajah dari
obyek (meditasi) itu anda mengalami kesulitan. Anda berusaha dengan
keras. Mencoba lagi dan lagi. Anda kemudian berkeringat dan menjadi
lelah. Metta seharusnya membuat anda berbahagia, damai, tenang
dan sejahtera. Tapi saat ini anda “kepanasan” karena lelah dan
kekecewaan yang diakibatkan oleh gagalnya menggambarkan bentuk tubuh
atau wajah dari obyek tersebut. Karena itu anda tidak perlu
menggambarkan obyek dalam pikiran. Itu sangat tidak penting.
Terkadang obyek dalam wujud seseorang muncul dalam pikiran. Itu baik.
Tapi bila bentuk tubuh atau wajah tersebut kemudian lenyap, itu tidak
jadi masalah. Yang terpenting adalah menumbuhkan cinta kasih yang
berlimpah dalam diri anda.
Jadi, apakah bentuk tubuh atau wajah itu muncul atau tidak dalam pikiran,
itu bukanlah sesuatu yang perlu untuk dipermasalahkan. Karena yang utama
adalah mengembangkan metta dan merenungkan kebahagiaan,
kesejahteraan dan kemajuan pada seseorang yang memiliki sifat-sifat
luhur yang dipilih sebagai obyek meditasi. Dengan cara ini anda
mengembangkan metta dan mengarahkannya kepada orang tersebut.
Seseorang yang menjadi obyek anda itu bisa jadi berada di satu tempat
atau berada sangat jauh dari anda. Ini bukan sesuatu yang patut
dipermasalahkan. Yang terutama adalah mengarahkan metta anda
kepadanya dan mengharapkan kebahagiaan dan kesejahteraannya.
Dengan ini, secara bertahap pikiran dapat terkonsentrasi pada
kesejahteraan dan kebahagiaan orang yang menjadi obyek meditasi tersebut.
Timbul kebahagiaan, ketenangan dan pikiran yang jernih dalam diri anda.
Ketika perasaan ini semakin bertambah kuat, muncul sensasi seperti tubuh
diselimuti ketenangan, juga seperti selimut halus yang telah direndam di
air yang dingin. Anda pun menjadi tenang tapi kedinginan.
Pada tahap ini beberapa pemeditasi mungkin akan mengambil selimut untuk
menghangatkan tubuh mereka. Sekalipun saat musim panas dibulan April
atau Mei. Maka meditasi metta merupakan meditasi yang baik
untuk dipraktekkan di musim panas bagi para orang barat. Anda tidak
perlu lagi pergi ke Maymo atau Taungyi (suatu dataran tinggi dengan
iklim yang dingin).
Beberapa pemeditasi akan merasakan sensasi seperti di atas setelah masa
berlatih 20 hari. Pikiran terkonsentrasi dengan baik. Begitu mereka
melakukan meditasi duduk, konsentrasi segera dapat dipusatkan. Kadang
mereka mendapat penampakan obyek meditasi.
Penampakan seseorang yang menjadi obyek (meditasi) tersebut kadang
tersenyum atau bahkan berbicara pada mereka. Pemeditasi biasanya
membalas senyuman ini. Pemeditasi tersebut tidak menyadari bahwa ia
tersenyum dalam kondisi duduk bermeditasi. Orang lain kadang melihat
kejadian ini. Sehingga pemeditasi tersebut merasa malu dan berusaha
merubah ekspresi wajahnya.
Seperti yang anda ketahui, jika anda melihat seseorang tersenyum anda
juga akan turut tersenyum dalam pikiran. Ini dikarenakan senyum
memberikan pengaruh pada pikiran anda. Dengan demikian pikiran cenderung
untuk tersenyum yang mengakibatkan wajah menampakkan senyuman. Inilah
yang dimaksud oleh Visuddhimagga bahwa ada sebelas manfaat
mempraktekkan meditasi metta.
I. 5. Kisah Seorang Bhikkhu Muda
Di
Chitalabota tinggallah seorang bhikkhu muda mempraktekkan meditasi
metta. Bhikkhu muda ini suka meditasi dengan berpindah-pindah
tempat. Sebelumnya ia tinggal di suatu tempat selama 4 bulan. Setelah
itu ia pindah ke tempat lain dan tinggal di sana selama 4 bulan.
Ia suka berpindah ke beberapa tempat dan menetap selama 4 bulan pada
setiap tempat yang ia tinggali. Di tempat ini juga, Chitalabota, ia
menetap selama 4 bulan. Setelah masa 4 bulan, ia akan berpindah ke
tempat lain lagi.
Pada malam terakhir, bhikkhu muda tersebut melakukan meditasi jalan. Di
ujung lintasan terdapat sebatang pohon. Nama pohon itu Manirukkha
(Pali). Di tengah latihan meditasi jalan itu ia mendengar suara tangisan
yang sangat keras. Lalu ia bertanya, “Siapa yang menangis itu ?”
Sebuah suara dari makhluk yang tidak tampak menjawab, “Bhante, saya
adalah dewa yang tinggal di pohon ini. Sayalah yang menangis barusan.”
“Mengapa kamu menangis ?”
“Sebab bhante akan pergi ke tempat lain esok pagi. Makanya saya sedih.”
Dewa tersebut berkata lebih lanjut, ”Sebelum bhante datang dan tinggal
di tempat ini, para dewa yang berada di sekitar sini selalu bertengkar.
Tak ada kerukunan. Tak ada kedamaian. Lalu bhante datang dan tingggal di
sini. Sejak itu para dewa hidup dalam kerukunan dan kedamaian. Kehidupan
kami diliputi oleh kebahagiaan. Tak ada lagi pertengkaran. Karena itu
bhante, saya mohon untuk tetap tinggal disini demi kebaikan kita semua”.
Akhirnya Bhikkhu muda itu menetap di sini sambil melanjutkan latihannya
selama masa empat bulan kedepan. Setelah masa empat bulan berlalu adegan
yang sama berulang lagi. Dewa pohon menangis lagi memintanya tinggal
lebih lama.
Di dalam kitab komentar digambarkan mengenai manfaat-manfaat yang
diperoleh bila seseorang mengembangkan cinta kasih. Ia akan disayangi
oleh para dewa maupun makhluk hidup lainnya. Mengapa demikian ?
Ini dikarenakan pikiran menjadi jernih dan tenang. Wajah mencerminkan
hasil latihan tersebut. Kecemerlangan, keramahan, keceriaan, ketenangan
dan kesabaran memancar dari wajah.
Orang-orang yang bertemu dengannya akan dapat merasakan kebahagiaan,
ketenangan, keceriaan dan kesabarannya. Semangat cinta kasih tumbuh
dalam diri mereka. Itulah yang membuat para dewa menjadi rukun dan tidak
lagi bertengkar. Maka di Chanmyay Yeikhta (Pusat Latihan meditasi) tidak
ada pertengkaran. Sebab kalian semua mengembangkan cinta kasih.
Selama masa vassa, yang berlangsung dalam 3 bulan, setiap hari
uposatha (pada tgl 8, 14 atau 15, 22 dan akhir bulan), semua
pemeditasi dan juga mereka yang datang untuk meminta sila (termasuk
juga anak-anak sekolah), mempraktekkan metta, menjalankan sila
ke-9 dan vegetarian. Anda tahu sila ke-9 ? mempraktekkan metta
adalah sila ke-9. Dengan demikian seluruh vihara (tempat berlatih)
diselimuti oleh cinta kasih. Andapun akan turut tersenyum.
Nama bhikkhu muda itu adalah Visakha. Dia memutuskan untuk tetap tinggal
di Chitalabota bukan hanya untuk satu dewa, tapi dikarenakan seluruh
dewa yang ada di sana memohon padanya untuk tetap tinggal.
Setelah masa 4 bulan berikutnya, ia berniat untuk pindah tempat lagi.
Dan seperti kejadian sebelumnya, malam sebelum keberangkatannya, para
dewa menangis dan memintanya tetap tinggal. Dengan demikian ia harus
tinggal di sana untuk selamanya. Ia tidak lagi bisa berpindah ke tempat
lain.
Meditasi cinta kasih yang dikembangkan oleh bhikkhu muda tersebut sangat
efektif sehingga para dewa yang dulunya selalu bertengkar menjadi rukun,
berbahagia dan hidup dalam kedamaian.
BAB II

JHANA-JHANA
II.1.
Kemampuan Memegang Obyek
Selanjutnya saat anda
telah mengembangkan metta, pikiran menjadi tenang,
terkonsentrasi, lunak dan mudah untuk diarahkan. Dalam kondisi
demikian anda harus merubah obyek pada orang yang berbeda. Yakni
seseorang yang setara dengan guru anda. Orang yang patut dihormati dan
dimuliakan karena sila, samadhi dan panna yang
dimilikinya.
Bila kondisi yang sama tercapai dengan obyek (orang) kedua ini, anda
harus mengganti ke obyek orang yang berbeda. Seseorang yang dijadikan
obyek ini harus memiliki tingkat kebijaksanaan dan kemuliaan yang
setara dengan dua obyek sebelumnya. Demikian hal ini berlangsung
sampai dengan obyek orang kesepuluh.
Pada kondisi ini, saat batin dipenuhi oleh kebahagiaan, ketenangan dan
pikiran terkonsentrasi dengan baik (dapat mempertahankan obyek dengan
lama) anda telah mencapai tingkatan-tingkatan dalam konsentrasi yang
disebut jhana (jhana I, II, III).
Ciri atau tanda-tanda pada jhana I adalah :
-
Vitaka,
berusaha memegang obyek.
-
Vicara, telah
memegang obyek dengan kuat.
-
-
Sukha,
kebahagiaan yang dalam.
-
Ekagatha,
pikiran yang telah terpusat, batin seimbang.
Pada jhana I
konsentrasi belum benar-benar stabil. Anda masih dapat mendengar
suara-suara dari luar. Tapi obyek (meditasi) dapat dipertahankan.
Memasuki jhana II, hanya terdapat 3 dari kelima ciri di atas,
yakni Piti, Sukha dan Ekagatha.
Dalam tahap ini pikiran menjadi lebih tenang dan mantap. Lalu anda
tinggalkan jhana II ini dan memasuki jhana III,
dimana yang ada hanya Sukha dan Ekagatha.
Piti (kegiuran) dapat mengguncang pikiran dan tubuh anda.
Maka, saat memasuki jhana III, Piti ditinggalkan dan
pikiran semakin tenang dan kokoh.
Terkadang anda merasa bahwa tidak ada siapapun di sekitar anda. Anda
merasakan kedamaian dan ketenangan dalam kesendirian tersebut. Inilah
pencapaian dalam jhana III. Kondisi demikian dapat dicapai
meski pada saat itu anda sedang mengarahkan cinta kasih pada seseorang.
Tetapi anda perlu mengganti obyek kepada orang kedua, seseorang yang
memiliki kualitas batin dan kebijaksanaan yang setara dengan obyek
orang pertama.
Orang yang menjadi obyek metta tersebut merupakan orang yang
anda sayangi tapi bukan berlawanan jenis. Sebab pengalaman anda pada
latihan meditasi metta ini belum mendapat banyak kemajuan.
Masih mudah goyah.
Apabila dalam kondisi seperti ini anda mengarahkan metta pada
orang yang berbeda jenis kelamin, seperti misalnya istri/suami anda,
kemungkinan yang didapat adalah kegusaran dan kekecewaan. Bisa jadi
anda akan memukuli dinding.
Oleh sebab itu, pada tahap meditasi metta yang demikian, anda
sebaiknya tidak mengarahkan cinta kasih pada obyek yang berlawanan
jenis. Tapi yang sama jenis kelaminnya. Lalu cinta kasih tersebut
diarahkan kepada orang pertama, kedua, ketiga sampai dengan orang
kesepuluh.
Pada saat mempraktekkan meditasi metta dalam posisi duduk (bermeditasi)
dan mengarahkan cinta kasih kepada orang pertama, kedua, ketiga sampai
dengan orang yang kesepuluh, masing-masing selama 5-10 menit, akan
membangkitkan ketertarikan anda terhadap metta dan menjadi
bahagia karenanya.
Pergantian obyek ini dilakukan dari kelompok I (sejumlah 10 orang) ke
kelompok II, yakni obyek orang yang netral.
Apabila anda berhasil mengarahkan metta pada kelompok II ini,
langkah selanjutnya adalah menujukan metta tersebut kepada
pihak yang bermusuhan dengan anda. Hal ini dapat dilakukan karena anda
telah mencapai tahap penguasaan yang lebih baik daripada sebelumnya.
Pada tahapan ini anda dapat mengarahkan metta tanpa perlu
kuatir munculnya kemarahan. Sebab, anda telah memenuhi diri dengan
metta. Sehingga saat kekuatan metta ini diarahkan kepada
obyek seseorang yang menjadi musuh anda, yang ada hanyalah metta.
Ini pertanda keberhasilan.
Lalu anda dapat meningkatkan latihan dengan cara berganti obyek secara
acak. Maksudnya, setelah mengarahkan metta pada kelompok I,
anda dapat segera berpindah ke obyek di kelompok III atau II. Tidak
harus berurutan. Jika ini dapat dilakukan dengan baik, maka anda akan
diliputi oleh ketenangan dan kedamaian.
Namun ketenangan dan kedamaian yang dicapai ini dapat dikacaukan
dengan munculnya rintangan. Rintangan ini dapat berwujud
pengidentifikasian diri “anda” sebagai seseorang yang “disayangi,
dibenci atau dimusuhi”. Inilah rintangan yang muncul.
Hal ini dapat diperumpamakan demikian. Bila seorang penjahat meminta
kita untuk dikorbankan pada dewanya agar perampokan yang akan
dilakukannya berhasil, anda tidak akan menunjuk seseorang untuk
dijadikan korban tersebut. Ini dikarenakan anda telah berhasil dalam
berlatih meditasi metta. Anda akan mengatakan demikian, “Kamu
tidak dapat menjadikan siapapun diantara kami sebagai korban
persembahan dewamu. Katakan pada dewa tersebut, bahwa tidak seorangpun
diantara kami yang dapat dijadikan persembahan.”
Jawaban ini menunjukkan keberhasilan anda dalam mematahkan rintangan
“anda, atau saya, sebagai orang yang dibenci atau orang yang disayangi”.
Ini disebut Sima Sambheda. Sima berarti rintangan dan
Sambheda artinya mematahkan.
Selanjutnya dalam kitab komentar dikatakan, bila anda berhasil
mematahkan rintangan ini, berarti anda telah memiliki konsentrasi yang
baik. Namun dari pengalaman para pemeditasi yang saya bimbing, sebelum
berhasil mematahkan rintangan tersebut, anda harus telah memasuki
tingkatan dalam jhana-jhana.
Sementara kitab komentar mengambil jalan yang aman. Setelah anda
secara menyeluruh dan sepenuhnya mengembangkan metta terhadap
3 tingkatan obyek tersebut, secara pasti anda telah memiliki
konsentrasi yang baik. Atau dapat dikatakan anda telah mencapai
tingkat konsentrasi jhana-jhana. Tak ada seorangpun yang
dapat membantah kenyataan ini.
Inilah pengembangan obyek khusus dalam meditasi metta. Obyek
ini bisa berupa obyek-obyek yang terbatas lainnya, seperti sebatas
kota, propinsi atau negara, ini juga disebut meditasi metta
dengan obyek khusus.
Misalnya anda mengembangkan metta kepada masyarakat di Burma
atau Amerika boleh saja (dapat dimulai dari presidennya terlebih dulu).
Ini disebut juga meditasi metta dengan obyek khusus.
Anda juga dapat mengembangkan metta dengan obyek khusus ini
ke segala arah. Contohnya, anda mengembangkan metta kepada
orang-orang di Burma atau Amerika (dapat dimulai dari presidennya
terlebih dulu).
Metta dengan obyek khusus tersebut dapat juga ditujukan ke
segala arah mata angin, yakni arah utara, selatan, timur, barat, dan
lain-lain. Setelah dapat mengarahkan metta ke segala arah,
anda kemudian dapat menujukan metta kepada semua makhluk di
seluruh dunia, merupakan obyek metta yang umum.
Dengan adanya pengalaman di tingkat lanjut ini anda dapat
berkonsentrasi dengan baik, yakni menujukan metta kepada
semua makhluk di seluruh dunia (obyek umum).
II.2.
Jhana dalam Visudhimagga
Didalam kitab
Visuddhimagga dikatakan, bila pemeditasi telah mencapai tahapan
konsentrasi yang terpusat dalam latihan meditasi cinta kasih, ini
disebut dengan Upacara Samadhi, konsentrasi tetangga.
Jika latihan metta ini dilanjutkan, ia akan segera dapat
mencapai jhana. Mula-mula ia akan memasuki jhana I,
lalu jhana II, dan III.
Ada 4 jhana yang dapat dicapai bila seseorang mempraktekkan
meditasi Samatha. Tanda atau ciri-ciri dari pencapaian
jhana I tersebut adalah : vitaka (berusaha memegang
obyek), vicara (telah memegang obyek dengan kuat), piti
(kegiuran), sukha (kebahagiaan yang dalam), dan ekagatha
(pikiran yang telah terpusat, batin seimbang).
Saat anda mencapai jhana I, konsentrasi yang terbentuk
tidaklah sekuat dan sedalam tiga jhana lainnya. Ini
dikarenakan masih adanya vitaka dan vicara. Disini
vitaka menunjukkan pikiran yang masih berusaha untuk
mempertahankan obyek tetap berada dalam pikiran tersebut. Sedang
vicara muncul bersamaan dengan kesadaran. Pada kondisi ini
pikiran semakin terpusat dan tidak lagi berkeliaran.
Maka dengan kekuatan vitaka dan vicara ini, pikiran
secara bertahap semakin terkonsentrasi pada obyek. Dan ketika pikiran
semakin terpusat akan muncul ketenangan dan kedamaian. Lalu muncullah
piti yang disebabkan oleh konsentrasi yang terpusat itu.
Konsentrasi yang terpusat dan batin yang seimbang merupakan tanda dari
telah dicapainya ekagatha.
Dalam jhana I ini karena vitaka dan vicara
ada bersama-sama dengan kesadaran, maka konsentrasi yang terbentuk
tidaklah begitu kokoh.
Bila anda melanjutkan latihan dengan mengembangkan cinta kasih kepada
seseorang yang telah anda pilih sebagai obyek meditasi, lambat laun
konsentrasi yang terbentuk semakin dalam dan kokoh. Dengan demikian
kesadaran semakin menguat terhadap obyek.
Tingkat konsentrasi ini meliputi piti, sukkha dan
ekagatha. Ini adalah jhana II. Tetapi piti dan
sukha bersifat tidak stabil dan kurang kokoh. Dan bila
latihan ini terus berlanjut, konsentrasi yang terbentuk lebih dalam
dan kokoh daripada jhana II. Pada tingkat ini tidak ada lagi
piti. Yang tersisa hanya sukha dan ekagatha.
Bila usaha semakin ditingkatkan, maka konsentrasi yang terbentuk akan
semakin bertambah dalam dan kokoh. Pada tahap ini pikiran yang
mengamati telah menyatu dengan obyek dan konsentrasi telah berada pada
tingkat yang tertinggi.
Pikiran tidak lagi bergerak, bergetar atau terguncang. Pikiran menjadi
sangat tenang dan damai. Sehingga dalam tahapan ini, pemeditasi tidak
perlu lagi berusaha mengonsentrasikan pikirannya kepada obyek. Sebab
pikiran telah dengan sendirinya terkonsentrasi pada obyek tersebut.
Keseimbangan muncul pada jhana IV sementara sukha,
kegembiraan, telah lenyap.
Pada jhana IV ini kegembiraan telah lenyap karena pemeditasi
tidak lagi merasa gembira atau sedih. Disini ia telah mencapai
keseimbangan batin dan pikiran yang terpusat.
Metta adalah kebajikan yang mengharapkan kesejahteraan pada
makhluk lain atau menjadi tidak egois. Namun dengan munculnya
keseimbangan batin, anda tidak lagi dikuasai cinta kepada makhluk
lain. Akibatnya, seseorang yang mempraktekkan meditasi metta
tidak dapat mencapai jhana IV. Hanya tiga jhana di
bawahnya yang bisa dicapai metta bhavana.
Hal ini dikarenakan saat mempraktekkan meditasi metta, diri
anda akan dipenuhi oleh piti dan sukha. Semakin anda
mengembangkan metta ini, semakin dalam perasaan piti
dan sukha menguasai diri anda.
Setelah latihan di tempat ini anda dapat mempraktekkan metta
dalam kehidupan sehari-hari. Karena dengan mempraktekkan metta,
anda membuat musuh menjadi seorang sahabat. Pikiran yang buruk menjadi
pikiran yang baik. Emosi yang negatif menjadi emosi yang positif.
Inilah pengetahuan jhana secara teoritis. Namun Pengetahuan
jhana yang diperoleh dari latihan tidak begitu sulit
dipertahankan bila anda tetap berminat terus berlatih, setelah masa
latihan di tempat ini.
BAB III

ANAPANASATI
MEDITASI SAMATHA
ATAU
MEDITASI VIPASSANA ?
III.1.
Anapanasati sebagai Meditasi Samatha
Anapanasati,
meditasi dengan menggunakan obyek napas, dalam Visuddhimagga,
merupakan meditasi Samatha.
Dalam Visuddhimagga dikatakan terdapat 40 obyek meditasi
Samatha. Ke 40 obyek itu terdiri dari, 10 obyek kasina,
10 obyek yang menjijikkan (asubha), 10 obyek perenungan (anussati),
4 obyek kediaman luhur (brahmavihara), 4 obyek tanpa bentuk
(arupa), 10 obyek perenungan terhadap makanan (aharepatikulasana)
dan 1 obyek empat nsure (catu dathu vatana).
Anapanasati merupakan satu dari ke 40 obyek tersebut.
Kasina berarti keseluruhan. Dengan kata lain, saat
mempraktekkan meditasi dengan obyek kasina, anda harus
memusatkan pikiran pada obyek yang berbentuk lingkaran. Sebagai
langkah awal dapat dilakukan dengan mata.
Anda dapat menggunakan obyek kasina saat mempraktekkan
meditasi Samatha. Misal, tanah (pathavi kasina),
air (apo kasina), api (tejo kasina), udara (vayo
kasina), cahaya (aloka kasina), warna merah (lohita
kasina), biru (nila kasina), kuning (pita kasina),
putih (odata kasina) dan obyek angkasa (akasa 0kasina).
Sedang 10 obyek yang menjijikkan (asubha) meliputi :
-
Uddhumataka
asubha, merupakan obyek yang diambil dari mayat manusia, atau
bangkai binatang yang membengkak atau kembung oleh angin.
-
Vinilaka asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang sudah kebiru-biruan (campuran
warna biru, hijau, putih). Kadang mengandung nanah dan cairan
serta kotoran lain yang terdapat dalam jasad.
-
Vipubbaka asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang sudah bernanah dan juga sudah
dibedah sehingga terlihat nanah yang berceceran keluar dari mata,
hidung, telinga dan muka.
-
Vicchiddaka
asubha, obyek yang diambil dari mayat yang sudah terbelah
menjadi dua bagian.
-
Vikkhayitaka
asubha, obyek yang diambil dari mayat yang sudah digerogoti
binatang kecil ataupun yang dimakan binatang buas.
-
Vikkhitaka asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang sudah hancur atau
terpotong-potong, tapi masih ada dagingnya.
-
Hatavikkhitaka
asubha, obyek yang diambil dari mayat yang sudah busuk dan
hancur/terpotong besar/kecil dan masih ada daging.
-
Lohitaka asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang mengeluarkan darah, cairan atau
kotoran lain.
-
Puluvaka asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang penuh belatung dan menggerogoti
mayat dari luar dan dalam sehingga berlubang-lubang sampai habis.
-
Atthika asubha,
obyek yang diambil dari mayat yang sudah tinggal tengkorak.
Adapun 10 obyek
perenungan (anussati) meliputi :
-
Buddhanussati,
perenungan terhadap Sang Buddha yang telah terbebas dari lobha
(keserakahan), dosa (kebencian) dan moha (kegelapan
batin).
-
Dhammanussati,
perenungan terhadap Dhamma yang tidak terkena lobha, dosa
dan moha.
-
Sanghanussati,
perenungan terhadap Ariya Sangha, bahwa beliau-beliau
telah terbebas dari lobha, dosa dan moha.
-
Silanussati,
perenungan terhadap sila yang dilakukan oleh diri sendiri.
-
Caganussati,
perenungan terhadap dana yang telah dilaksanakan.
-
Devatanussati,
perenungan terhadap makhluk agung (brahma, dewa).
-
Maranussati,
perenungan terhadap kematian yang akan dialami.
-
Kayagatanussati,
perenungan terhadap kekotoran jasmani.
-
Anapanasati,
perenungan terhadap keluar-masuknya napas.
-
Upasamanussati,
perenungan terhadap Keadaan nibbana yang terbebas dari kekotoran
batin dan penderitaan.
Maka dari itu
Anapanasati, pengamatan terhadap obyek napas dalam konteks ini,
merupakan salah satu dari 10 obyek perenungan (anussati).
III.2.
Anapanasati Sebagai Objek Meditasi Vipassana
Bila kitab
Visuddhimagga menempatkan Anapanasati ke dalam
meditasi Samatha, tidak demikian Maha Satipathana Sutta
menulis. Dalam Maha Satipathana Sutta dikatakan, pembabaran
mengenai 4 landasan kesadaran, Anapanasati merupakan obyek
dalam meditasi Vipassana. Merujuk pada kedua sumber diatas
maka sebagian kaum terpelajar dibingungkan olehnya. Apakah
Anapanasati ini sebagai meditasi Samatha atau meditasi
Vipassana ?
Dalam Maha Satipatthana Sutta Sang Buddha mengajarkan cara
mempraktekkan Anapanasati, menyadari keluar-masuknya napas.
Beliau mengatakan bagaimana pemeditasi melihat muncul dan lenyapnya
napas dan menyadari ketidakkekalan pada (proses) bernapas tersebut.
Karenanya Anapanasati dikategorikan dalam obyek meditasi
Vipassana.
Hal yang perlu kita ketahui pada obyek didalam meditasi Samatha
dapat berupa pannatti atau paramattha. Pannati
berarti konsep dan paramattha berarti kenyataan mutlak.
Obyek-obyek didalam meditasi Samatha dapat berupa konsep
atau realitas mutlak. Bila kasina digunakan sebagai obyek
meditasi, obyek itu merupakan sebuah konsep. Bukan realitas mutlak.
Mengapa demikian ?
Misalkan anda menggunakan warna merah sebagai obyek meditasi, maka
pertama-tama anda harus menggambar lingkaran warna merah seukuran
piring pada dinding atau pohon dengan ketinggian sekitar 60 cm,
sehingga mata dapat melihat dengan mudah. Dan warna merah tersebut
haruslah warna asli, bukan merupakan campuran dari warna lain.
Saat memusatkan pikiran pada lingkaran (warna) merah itu, pikiran
harus difokuskan pada seluruh lingkaran merah tersebut, bukan
separuh atau seperempat dari lingkaran. Mengapa ? Sebab anda ingin
mengonsentrasikan pikiran pada bentuk lingkaran. Tidak perlu
meributkan warnanya, ataupun teksturnya. Yang perlu dilakukan hanya
mengonsentrasikan pikiran pada bentuk lingkaran. Anda harus melihat
seluruh lingkaran dan memfokuskan pikiran kepadanya.
Saat pikiran terkonsentrasi dengan baik, meskipun mata tertutup,
lingkaran merah itu tidak hilang dari ingatan. Sekarang anda melihat
lingkaran merah itu dalam pikiran. Lingkaran yang terlihat di
pikiran itu disebut Patibhaga Nimitta. Arti dari
Nimitta disini sama dengan lingkaran pada dinding. Namun
sebagian kaum terpelajar menerjemahkan sebagai tanda yang sama.
Oleh karena itu, meditasi dengan obyek ini merupakan meditasi
Samatha. Dengan demikian anda tidak perlu mengamati
proses-proses fisik pada lingkaran tersebut. Yang perlu dilakukan
hanya mengonsentrasikan pikiran pada seluruh lingkaran dan
menyimpannya. Sehingga anda tetap bisa melihat lingkaran merah
tersebut dalam pikiran bila konsentrasi yang dihimpun cukup baik.
Bentuk lingkaran merah tersebut hanya konsep, bukan realitas mutlak.
Itu hanya sesuatu yang diciptakan oleh pikiran. Dalam hal ini obyek
tersebut hanyalah sebuah konsep, bukan realitas mutlak.
Ketika mempraktekkan Buddhanussati, perenungan terhadap
kebajikan dan sifat-sifat luhur Sang Buddha, obyek ini merupakan
realitas, Paramattha.
Seperti misalnya kata “Araham”, yang menunjukkan makna
bahwa Sang Buddha sungguh mulia. Sebab beliau telah terbebas sama
sekali dari kekotoran batin dengan menggunakan 4 landasan pencerahan,
Arahatta Magga dan Sabbannuta, yakni kemahatahuan.
Karenanya anda dapat berkonsentrasi atau merenungkan sifat-sifat
luhur Sang Buddha yang telah berhasil menghancurkan kekotoran batin.
Obyek ini merupakan realitas mutlak, bukan konsep. Bila hal ini
diulang terus-menerus, kapanpun pikiran menyimpang (dari obyek),
anda dapat membawa pikiran kembali kepada obyek semula, yakni
merenungkan kebijaksanaan dan sifat-sifat luhur Sang Buddha. Dengan
cara ini, pikiran akan makin terkonsentrasi. Karenanya dapatlah
dikatakan bahwa realitas mutlak (Paramattha) merupakan
obyek meditasi Samatha.
Perlu diketahui bahwa dalam meditasi Vipassana, setiap
obyek meditasi merupakan realitas mutlak (Paramattha).
Konsep tidak dapat menjadi obyek karena anda tidak akan menemukan
karakteristik khusus maupun umum pada konsep. Dengan demikian
obyek-obyek tersebut haruslah merupakan realitas mutlak.
Katakanlah anda bernama Pannananda. Meski anda sudah
meninggal, jika saya mengingat nama anda, maka nama itu masih ada
dalam ingatan (pikiran). Mengapa ? Sebab pikiran saya mengingatnya,
membuatnya untuk tetap ada. Artinya, nama hanya sebuah konsep karena
diciptakan, diingat atau dibuat oleh pikiran. Dengan ini setiap
konsep tidaklah nyata. Konsep itu sesuatu yang dibuat oleh pikiran.
Karenanya tidak ada karakteristik untuk disadari atau diamati.
Lalu, bila lingkaran merah dijadikan obyek meditasi, anda
mengingatnya dan mengonsentrasikan pikiran padanya. Secara bertahap
pikiran makin terkonsentrasi. Dan saat pikiran telah dapat
mempertahankan obyek, maka dikatakan telah memasuki jhana.
Yang perlu diperhatikan, obyek lingkaran merah itu bukanlah suatu
realitas, tapi dibentuk oleh pikiran. Karenanya obyek tersebut
hanyalah suatu konsep. Tidak ada sedikitpun karakteristik yang perlu
disadari. Bahkan meski anda mengonsentrasikan pikiran pada obyek
tersebut, katakanlah selama 100 tahun secara terus-menerus, anda
tidak akan dapat menemukan/menyadari karakterisktik pada obyek itu.
Obyek tersebut bukanlah suatu realitas, tapi dibentuk oleh pikiran.
Ia hanya sebuah konsep.
Maka untuk membedakan Anapanasati sebagai obyek dalam
meditasi Vipassana atau Samatha, haruslah
diketahui/dimengerti mengenai obyek napas dalam kelompok realitas
atau hanya sebuah konsep.
Pada kitab komentar Visuddhimagga disebutkan bahwa pikiran
hendaknya terkonsentrasi pada napas keluar-masuk yang bersentuhan
dengan ujung hidung. Dalam hal ini Anapanasati merupakan
obyek dalam meditasi Samatha. Mengapa demikian ? Sebab
pikiran harus terkonsentrasi pada masuk-keluarnya napas, bukan pada
udara/angin.
Ketika napas masuk, anda mencatat dalam batin sebagai ‘masuk’. Saat
napas keluar, anda mencatatnya sebagai ‘keluar’. ‘Masuk, keluar,
masuk, keluar’.
Pikiran dipusatkan bukan pada menghirup udara, tapi pada masuk dan
keluarnya udara. Masuk dan keluarnya napas/udara bukanlah realitas
mutlak.
Dalam hal ini konsep tersebut menjadi obyek meditasi (Samatha).
Anda tidak akan menemukan karakteristik apapun, baik yang bersifat
umum maupun khusus. Sebab obyek itu bukanlah realitas. Hanya konsep.
Karenanya ia digolongkan dalam meditasi Samatha.
Tetapi bila anda memusatkan pikiran pada “sentuhan” yang terjadi
antara ujung hidung dengan napas yang keluar-masuk, mengamati
sentuhan tersebut serta menyadarinya, maka obyek (napas) ini
merupakan realitas.
Titik sentuhan tersebut memiliki 4 unsur pokok, yaitu pathavi
dhatu (keras-lunak), apo dhatu (cairan), tejo
dhatu (panas/dingin) dan vayo dhatu (gerak).
Keempat unsur pokok ini ditemukan saat anda memusatkan pikiran pada
sensasi sentuhan antara ujung hidung dengan napas yang masuk dan
keluar. Sehingga obyek napas ini digolongkan dalam meditasi
Vipassana.
Inilah yang dijelaskan oleh Y.M. Mahasi Sayadaw dalam tulisan beliau
mengenai meditasi Samatha dan meditasi Vipassana
berkenaan dari segi pernapasan.
Dengan penjelasan ini anda dapat memahami Anapanasati
sebagai meditasi Samatha (menurut Visuddhimagga)
dan sebagai meditasi Vipassana (menurut Maha
Satipatthana Sutta). Tetapi untuk benar-benar memahami
perbedaan ini, anda harus berlatih meditasi dengan sungguh-sungguh.
Kadang anda harus mengonsentrasikan pikiran pada keluar-masuknya
napas sebagai obyek meditasi bila mengalami konsentrasi pecah dan
banyak berkhayal. Dalam hal ini Sang Buddha menyarankan praktek
meditasi pernapasan (dalam kategori meditasi Samatha) bila
terjadi kondisi di atas. Karena pernapasan selalu terjadi selama
anda masih hidup. Maka akan lebih mudah untuk berkonsentrasi pada
obyek napas dalam upaya mepertahankan konsentrasi bila konsentrasi
tersebut pecah dan banyak melamun.
Menurut pengalaman, Buddhanussati (perenungan terhadap
kebijaksanaan dan sifat-sifat luhur Sang Buddha) dan Metta
(cinta kasih) merupakan obyek yang sangat baik bagi para pemeditasi
untuk memusatkan pikiran saat konsentrasi pecah dan banyak melamun.
Tetapi obyek Buddhanussati akan menimbulkan kesulitan bagi
anda yang tidak mengenal atau mengetahui kebijaksanaan dan keluhuran
Sang Buddha. Sementara obyek Metta jauh lebih mudah digunakan.
Setiap anda dapat melakukannya.
Sekarang anda dapat membedakan dua aspek meditasi pernapasan ini.
Dan semoga dengan pengertian dan praktek meditasi yang
sungguh-sungguh akan membuahkan keberhasilan seperti yang diinginkan…!
Surabaya,
Akhir Januari 2003
|