Saṃyuktāgama

156. Kotbah tentang Pandangan Pemusnahaan Saat Kematian

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kelangsungan dari sebab apakah, dengan melekat pada apakah, dengan dibelenggu dan terikat pada apakah, dengan melihat apakah sebagai diri, makhluk-makhluk memiliki pandangan seperti ini dan berkata seperti ini: ‘Semua makhluk hidup yang berdiam di dunia ini akan dimusnahkan setelah kematian, akan dihancurkan, dan tidak akan ada. Seorang manusia adalah gabungan dari empat unsur, pada saat setelah kematian tubuh [unsur] tanah akan kembali ke tanah, [unsur] air akan kembali ke air, [unsur] api akan kembali ke api, [unsur] angin akan kembali ke angin, dan indera-indera akan oleh karenanya berlanjut ke angkasa.

“Empat orang dengan tandu sebagai yang kelimanya mengangkut mayat itu ke pemakaman … sampai dengan … ini dapat dipahami bahwa apa yang belum terbakar telah terbakar, dan [hanya] tulang-belulang berwarna seperti burung dara tersisa. Orang-orang sombong, yang membiarkan [orang lain] mengetahui tentang persembahan, dan orang-orang cerdik, yang membiarkan [orang lain] mengetahui tentang akibat jasa, apa yang mereka nyatakan sebagai ada semuanya adalah penipuan dan kebohongan. Apakah orang bodoh atau orang bijaksana, setelah kematian mereka keberadaan lain dimusnahkan, dihancurkan, dan tidak ada lagi’?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma …” diulangi dengan lengkap dengan cara yang sama dalam urutan dari tiga kotbah di atas.