Saṃyuktāgama

204. Kotbah tentang Memahami dan Melihat Sebagaimana Adanya

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada Yang Mulia Ānanda: “Seseorang seharusnya memahami mata sebagaimana adanya dan melihatnya sebagaimana adanya; seperti halnya mata, demikian juga seseorang seharusnya memahami sebagaimana adanya dan melihat sebagaimana adanya bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti ini.

“Seseorang yang telah memahami mata sebagaimana adanya dan melihatnya sebagaimana adanya, memunculkan kekecewaan terhadapnya, dan juga memunculkan kekecewaan terhadap bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti ini.

“Dengan menjadi kecewa, ia tidak menyenanginya. Dengan tidak menyenanginya, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan, ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.