Saṃyuktāgama

218. Kotbah tentang Sang Jalan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian jalan menuju munculnya dukkha dan jalan menuju lenyapnya dukkha. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian.

“Apakah jalan menuju munculnya dukkha? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Bergantung pada kontak, terdapat perasaan. Bergantung pada perasaan, terdapat ketagihan. Bergantung pada ketagihan, terdapat kemelekatan. Bergantung pada kemelekatan, terdapat kemenjadian. Bergantung pada kemenjadian, terdapat kelahiran. Bergantung pada kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan muncul.

“Dengan cara yang sama telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga [diulangi] seperti itu. Ini disebut jalan menuju munculnya dukkha.

“Apakah jalan menuju lenyapnya dukkha? Bergantung pada mata dan bentuk, kesadaran-mata muncul. Pertemuan dari tiga hal ini adalah kontak. Dengan lenyapnya kontak, perasaan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya perasaan, ketagihan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya ketagihan, kemelekatan kemudian lenyap. Dengan lenyapnya kemelekatan, kemenjadian menjadi lenyap. Dengan lenyapnya kemenjadian, kelahiran kemudian lenyap. Dengan lenyapnya kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan kemudian lenyap. Dengan cara ini keseluruhan kumpulan besar dukkha lenyap.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga diulangi seperti itu. Ini disebut jalan menuju lenyapnya dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.