Saṃyuktāgama

223. Kotbah Kedua tentang Memahami

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak mengatakan bahwa tanpa memahami dan tanpa mengerti satu hal, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya. Apakah satu hal yang tidak kukatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa mengerti hal itu, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya? Yaitu, aku tidak mengatakan bahwa, tanpa memahami dan tanpa mengerti mata, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Aku juga tidak mengatakan bahwa tanpa memahami dan tanpa mengerti bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, seseorang mencapai terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti itu.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.