Saṃyuktāgama
268. Kotbah tentang Sungai yang Mengalir
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya dari sebuah jurang gunung, air sebuah sungai memancar keluar, yang airnya dalam dan cepat, dengan arus yang kuat dan banyak yang mengapung di atasnya. Pada kedua tepi sungai berbagai tumbuhan tumbuh, di mana arus deras membengkokkannya sehingga ia berada di sepanjang batas air. Orang-orang yang menyeberangi air itu sering dibuat terapung oleh air itu dan terbawa arus, hanyut dan tenggelam. Terbawa oleh gelombang dekat dengan tepi sungai, dengan tangan mereka memegang tumbuhan itu, tetapi tumbuhan itu patah dan mereka lagi-lagi terbawa oleh air, terapung-apung di sepanjangnya.
“Dengan cara yang sama, para bhikkhu, misalkan seseorang yang bodoh tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menyenangi dan melekat pada bentuk jasmani, dengan menyatakan bentuk jasmani sebagai diri, [walaupun] bahwa bentuk jasmani setelah itu hancur. Dengan cara yang sama ia tidak memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Karena tidak memahaminya sebagaimana adanya, ia menyenangi dan melekat pada kesadaran, dengan menyatakan kesadaran sebagai diri, [walaupun] kesadaran pada gilirannya akan hancur.
“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami bentuk jasmani sebagaimana adanya, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenangi dan tidak melekat pada bentuk jasmani.
“Dengan cara yang sama ia memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Karena memahaminya sebagaimana adanya, ia tidak menyenangi dan tidak melekat pada kesadaran.
“Karena tidak menyenangi dan tidak melekat, dengan cara ini ia mencapai Nirvāṇa dan oleh karenanya mengetahui: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”
Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.