Saṃyuktāgama

133. Kotbah tentang Apakah Sebabnya

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kelangsungan dari sebab apakah, dengan melekat pada apakah, dengan dibelenggu dan terikat pada apakah, dengan melihat apakah sebagai diri, makhluk-makhluk hidup yang dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah melalui [banyak] kelahiran dan kematian, tanpa memahami awal mulanya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Adalah baik jika Sang Bhagavā dapat menjelaskan makna dari hal ini sepenuhnya kepada para bhikkhu, demi belas kasih. Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kukatakan kepada kalian. Para bhikkhu, kelangsungan bentuk jasmani adalah sebabnya, adalah dengan melekat pada masalah bentuk jasmani, dengan dibelenggu dan terikat pada bentuk jasmani, dengan melihat bentuk jasmani sebagai diri, sehingga makhluk-makhluk hidup dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah melalui [banyak] kelahiran dan kematian. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah bentuk jasmani adalah kekal atau ia tidak kekal?”

Mereka menjawab: “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi: “Apa yang tidak kekal, apakah ia adalah dukkha?”

Mereka menjawab: “Ia adalah dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:] “Dengan cara ini, para bhikkhu, apa yang tidak kekal adalah dukkha. Dukkha ini adalah sebabnya, adalah dengan melekat pada masalah ini, dengan dibelenggu dan terikat padanya, dengan melihatnya sebagai diri, sehingga makhluk-makhluk hidup dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah melalui [banyak] kelahiran dan kematian. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Dengan cara ini apa yang dilihat, didengar, dialami, diketahui, dicari, diingat, diikuti dengan kesadaran [yang diarahkan] (vitakka) dan diikuti dengan perenungan [yang terus-menerus] (vicāra), semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat pandangan yang menyatakan bahwa suatu diri ada dan dunia ada, dan bahwa dunia yang ada ini adalah kekal, abadi, dan bersifat tidak berubah – semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat lagi pandangan bahwa diri ini tidak ada, bahwa tidak ada milik diri ini, bahwa diri itu tidak akan ada pada masa depan dan tidak ada milik diri itu akan ada pada masa depan – semua itu adalah bukan diri, tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Seumpamanya seorang siswa mulia yang terpelajar memeriksa enam sudut pandang ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri. Seseorang yang merenungkan dengan cara ini meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Sang Buddha, meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Dharma … sehubungan dengan Komunitas (Sangha). Para bhikkhu, ini disebut seorang siswa mulia terpelajar yang tidak lagi dapat melakukan suatu perbuatan jasmani, ucapan atau pikiran yang akan membawa pada tiga tujuan buruk. Bahkan jika ia lalai, siswa mulia itu pasti akan berlanjut menuju pencerahan, dalam tujuh kehidupan kepergian dan kedatangan di antara para deva dan manusia ia akan mengakhiri dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.