Saṃyuktāgama

136. Kotbah tentang Apakah Masalah yang Menjadi Sebabnya

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Apakah masalah yang menjadi sebabnya, dengan melekat pada apakah, dengan dibelenggu dan terikat pada apakah, dengan melihat apakah sebagai diri, para bhikkhu, makhluk-makhluk yang dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah melalui [banyak] kelahiran dan kematian, tanpa memahami awal mulanya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Adalah baik jika Sang Bhagavā dapat menjelaskan makna dari hal ini sepenuhnya, demi belas kasih. Setelah mendengarkannya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kukatakan kepada kalian. Para bhikkhu, bentuk jasmani adalah sebabnya, adalah dengan melekat pada masalah bentuk jasmani, dengan dibelenggu dan terikat pada bentuk jasmani, dengan melihat bentuk jasmani sebagai diri, sehingga makhluk-makhluk hidup dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah dalam [banyak] kelahiran dan kematian. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, apakah bentuk jasmani adalah kekal atau apakah ia tidak kekal?”

Mereka menjawab: “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha] bertanya lagi: “Apa yang tidak kekal, apakah ia adalah dukkha?”

Mereka menjawab: “Ia adalah dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata:] “Dengan cara ini, para bhikkhu, apa yang tidak kekal adalah dukkha. Dukkha ini adalah sebabnya, adalah dengan melekat pada masalah ini, dengan dibelenggu dan terikat padanya, dengan melihatnya sebagai diri, sehingga makhluk-makhluk hidup dihalangi oleh ketidaktahuan, terbawa oleh belenggu ketagihan, berlarian selama waktu yang lama, berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian, terus-menerus berpindah melalui [banyak] kelahiran dan kematian. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Oleh sebab itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Seseorang yang merenungkannya dengan cara ini disebut seseorang dengan kebijaksanaan benar. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Dengan cara ini, apa yang dilihat, didengar, dialami, diketahui, dicari, diingat, diikuti dengan kesadaran [yang diarahkan] dan diikuti dengan perenungan [yang terus-menerus], semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat pandangan yang menyatakan bahwa suatu diri ada dan dunia ada, dan bahwa keberadaan dunia ini adalah kekal, abadi, dan tidak berubah – semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Jika terdapat lagi pandangan bahwa diri ini tidak ada, bahwa tidak ada milik diri ini, bahwa diri itu tidak akan ada pada masa depan dan tidak ada milik diri itu akan ada pada masa depan – semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Ini disebut kebijaksanaan benar.

“Seumpamanya seorang siswa mulia yang terpelajar memeriksa enam sudut pandang ini sebagai bukan diri dan bukan milik diri. Seseorang yang merenungkan dengan cara ini meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Sang Buddha, meninggalkan keragu-raguan sehubungan dengan Dharma … sehubungan dengan Komunitas (Sangha). Para bhikkhu, ini disebut mereka yang tidak lagi dapat melakukan suatu perbuatan jasmani, ucapan atau pikiran yang membawa pada tiga tujuan buruk. Bahkan jika mereka lalai, para siswa mulia itu semuanya pasti berlanjut menuju pencerahan, dalam tujuh kehidupan kepergian dan kedatangan di antara para deva dan manusia, mereka akan mengakhiri dukkha.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.