Saṃyuktāgama

176. Kotbah Pertama tentang Mengembangkan Perenungan terhadap Tubuh

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Demi tujun melenyapkan hal-hal yang tidak kekal, seseorang karenanya seharusnya berkembang dalam perenungan tubuh internal sebagai tubuh. Apakah hal-hal yang tidak kekal? Yaitu, bentuk jasmani adalah tidak kekal. Demi tujun melenyapkan hal itu, seseorang seharusnya karenanya berkembang dalam perenungan tubuh internal sebagai tubuh. Dengan cara yang sama perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran adalah tidak kekal. Demi tujuan melenyapkan hal itu, seseorang seharusnya karenanya berkembang dalam perenungan tubuh internal sebagai tubuh.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “[bentuk jasmani] adalah tidak kekal”, dengan cara yang sama “bentuk jasmani masa lampau adalah tidak kekal”, “bentuk jasmani masa depan [adalah tidak kekal]”, “bentuk jasmani masa sekarang [adalah tidak kekal]”, “bentuk jasmani masa lampau dan masa depan [adalah tidak kekal]”, “bentuk jasmani masa lampau dan masa sekarang [adalah tidak kekal]”, “bentuk jasmani masa depan dan masa sekarang [adalah tidak kekal]”, “bentuk jasmani masa lampau, masa depan, dan masa sekarang adalah tidak kekal. Demi tujuan melenyapkan [hal] itu, seseorang karenanya seharusnya berkembang dalam perenungan tubuh internal sebagai tubuh. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

Seperti halnya “[seseorang seharusnya] karenanya berkembang dalam perenungan tubuh internal sebagai tubuh” dalam delapan cara, dengan cara yang sama “[seseorang seharusnya] karenanya berkembang dalam perenungan tubuh eksternal sebagai tubuh”, “dalam perenungan tubuh internal dan eksternal sebagai tubuh”, “dalam perenungan perasaan internal sebagai perasaan”, “dalam perenungan perasaan eksternal sebagai perasaan”, “dalam perenungan perasaan internal dan eksternal sebagai perasaan”, “dalam perenungan keadaan mental internal sebagai keadaan mental”, “dalam perenungan keadaan mental eksternal sebagai keadaan mental”, “dalam perenungan keadaan internal dan eksternal sebagai keadaan mental”, “dalam perenungan dharma internal sebagai dharma”, “dalam perenungan dharma eksternal sebagai dharma”, “dalam perenungan dharma internal dan eksternal sebagai dharma”, delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing hal ini seperti di atas.

Seperti halnya untuk “makna berlatih empat penegakan perhatian untuk melenyapkan apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama untuk “makna karenanya berlatih empat penegakan perhatian untuk memahami [apa yang tidak kekal]”, “makna memadamkan [apa yang tidak kekal]”, “makna memuntahkan keluar [apa yang tidak kekal]”, “makna mengakhiri [apa yang tidak kekal]”, “makna melepaskan [apa yang tidak kekal]”, “makna menghentikan [apa yang tidak kekal]”, “makna menghilangkan [apa yang tidak kekal]”, juga diulangi seperti di atas.