Saṃyuktāgama
188. Kotbah tentang Pembebasan dari Kesenangan dan Nafsu
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Kalian seharusnya dengan benar menyelidiki mata sebagai tidak kekal. Seseorang yang menyelidikinya seperti ini disebut ‘[seseorang] dengan pandangan benar’. Karena dengan benar merenungkannya, kekecewaan muncul. Karena munculnya kekecewaan, seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu. Karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.
“Dengan cara yang sama [seseorang seharusnya dengan benar menyelidiki] telinga … hidung … lidah … badan … pikiran … [sampai dengan] … seseorang bebas dari kesenangan dan bebas dari nafsu. Para bhikkhu, karena bebas dari kesenangan dan nafsu, aku katakan pikiran dengan benar terbebaskan.
“Seseorang yang pikirannya dengan benar terbebaskan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Seperti halnya untuk tidak kekal, dengan cara yang sama juga [kotbah-kotbah] diulangi dengan cara ini untuk dukkha, kosong, dan bukan-diri.