Saṃyuktāgama

203. Kotbah tentang Dapat Meninggalkan Satu Hal

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Vesālī di Hutan Mangga Jīvaka.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Jika seorang bhikkhu dapat meninggalkan satu hal, maka ia akan mencapai pengetahuan benar dan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā adalah akar Dharma, mata Dharma, landasan Dharma. Semoga beliau menguraikannya. Setelah mendengarnya, para bhikkhu akan menjunjung tinggi dan menerimanya dengan hormat.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian. Para bhikkhu, karena meninggalkan satu hal apakah … sampai dengan … tidak akan ada kelangsungan yang lebih lanjut lagi? Yaitu, menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan, seseorang mencapai pemahaman benar dan dapat menyatakan dirinya: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”

Kemudian seorang bhikkhu tertentu bangkit dari tempat duduknya, mengatur jubahnya sedemikian sehingga memperlihatkan bahu kanannya, memberikan penghormatan kepada Sang Buddha, berlutut di atas tanah dengan lutut kanannya, dengan telapak tangannya disatukan, berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, dengan mengetahui apakah, dengan melihat apakah, seseorang menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan?”

Sang Buddha berkata kepada bhikkhu itu: “Seseorang seharusnya dengan benar menyelidiki mata sebagai tidak kekal, dan juga dengan benar merenungkan bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul bergantung pada kontak-mata, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai tidak kekal.

“Telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti ini.

“Para bhikkhu, dengan mengetahui seperti ini dan melihat seperti ini, seseorang menjadi bosan dengan ketidaktahuan dan memunculkan pengetahuan.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.