Saṃyuktāgama
226. Kotbah Pertama tentang Memikirkan
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku sekarang akan mengajarkan kalian [tentang] ditinggalkannya semua pemikiran. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kuajarkan kepada kalian. Apakah yang tidak seharusnya dipikirkan? Yaitu, janganlah memikirkan suatu diri dalam melihat bentuk, jangan memikirkan mata sebagai milik diri, jangan memikirkannya sebagai milik yang lain. Juga jangan memikirkan dan menyenangi bentuk, kesadaran-mata, kontak-mata, dan perasaan yang muncul dari kontak mata dan dialami di dalamnya, apakah menyakitkan, menyenangkan, atau netral, sebagai diri, sebagai milik diri, dan jangan memikirkan dan menyenanginya sebagai milik yang lain.
“Janganlah memikirkan telinga … hidung … lidah … badan … pikiran juga seperti itu.”
“Bagi seseorang yang tidak memikirkan dengan cara ini, tidak ada di dunia untuk dilekati sebagai kekal. Karena tidak melekat pada apa pun, ia tidak terikat pada apa pun. Karena tidak terikat pada apa pun, ia secara pribadi merealisasi Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi’.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengar apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.
Seperti yang diucapkan di atas tentang tidak memikirkan mata, dst., tidak memikirkan semua hal juga [diulangi] dengan cara ini.