Saṃyuktāgama
259. Kotbah tentang Pemahaman
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Rājagaha di Hutan Bambu, Tempat Memberi Makan Tupai. Pada saat itu Yang Mulia Sāriputta dan [Yang Mulia] Mahākoṭṭhita sedang berada di Gunung Puncak Burung Bangkai.
Kemudian, pada sore hari Mahākoṭṭhita bangkit dari meditasi dan mendekati Sāriputta. Setelah bertukar salam ramah tamah dan dengan berbagai cara mengungkapkan kegembiraan bersama mereka, Mahākoṭṭhita mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi dan kemudian berkata kepada Sāriputta: “Saya ingin menanyakan suatu pertanyaan. Apakah engkau memiliki waktu luang untuk berbicara denganku?”
Sāriputta berkata: “Teman, engkat dapat bertanya, dengan mengetahuinya saya akan menjawab.”
Kemudian Mahākoṭṭhita bertanya kepada Sāriputta: “Jika seorang bhikkhu, yang belum mencapai pemahaman Dharma, berharap untuk memperoleh pemahaman Dharma, bagaimanakah ia dengan tekun mendapatkannya? Kepada ajaran apakah yang seharusnya ia berikan pengamatan?”
Sāriputta berkata: “Jika seorang bhikkhu, yang belum mencapai pemahaman Dharma, berharap memperoleh pemahaman Dharma, ia seharusnya dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri. Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah pemasuk-arus.”
[Mahākoṭṭhita] bertanya lagi: “Sāriputta, setelah mencapai realisasi buah pemasuk-arus dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”
Sāriputta berkata: “[Mahā]koṭṭhita, setelah mencapai realisasi pemasuk-arus dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali, ia seharusnya juga dengan bersemangat memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri. Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali.”
Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”
Sāriputta berkata: “[Mahā]koṭṭhita, setelah mencapai realisasi buah yang-kembali-sekali dan berharap untuk mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali, ia seharusnya dengan bersemangat lagi memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri. Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali.”
[Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali dan berharap untuk mencapai realisasi buah kearahantaan, kepada ajaran apakah ia seharusnya berikan pengamatan?”
Sāriputta berkata: “Mahākoṭṭhita, setelah mencapai realisasi buah yang-tidak-kembali] dan berharap untuk mencapai realisasi buah kearahantaan, ia seharusnya dengan bersemangat lagi memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong, dan sebagai bukan diri. Mengapa demikian? Karena adalah mungkin bahwa seorang bhikkhu yang dengan bersemangat memberikan pengamatan pada lima kelompok unsur kehidupan ini [dengan cara ini] mencapai realisasi buah kearahantaan.”
Mahākoṭṭhita bertanya lagi kepada Sāriputta: “Setelah mencapai realisasi buah, kepada ajaran apakah ia seharusnya lebih jauh berikan pengamatan?”
Sāriputta berkata: “Mahākoṭṭhita, seorang arahant masih memberikan pengamatan pada sifat lima kelompok unsur kehidupan ini sebagai penyakit, sebagai bisul, sebagai duri, sebagai pembunuh, sebagai tidak kekal, sebagai dukkha, sebagai kosong dan sebagai bukan diri. Mengapa demikian? [Bukan] demi kepentingan mencapai apa yang belum dicapai, demi kepentingan merealisasikan apa yang belum direalisasikan, [tetapi] demi kepentingan suatu kediaman yang menyenangkan di sini dan saat ini.”
Kemudian kedua orang yang layak dihormati itu saling bergembira mendengarkan apa yang dikatakan satu sama lainnya dan pergi.