Saṃyuktāgama

130. Kotbah tentang Mencari Sang Guru Agung

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seseorang yang ingin meninggalkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati seharusnya mencari Sang Guru Agung. Apakah lima hal itu? Yaitu, mereka adalah kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati … perasaan … persepsi … bentukan … kelompok unsur kesadaran yang dilekati. Dengan berharap untuk meninggalkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini, seseorang seharusnya mencari Sang Guru Agung.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “seseorang seharusnya meninggalkan”, dengan cara yang sama “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan”, “seseorang seharusnya menenangkan”, “seseorang seharusnya melepaskan” juga seperti ini.

Seperti halnya mencari “sang guru agung”, dengan cara yang sama [mencari] “sang guru tertinggi”, “sang guru dengan urutan yang tepat”, “sang pengajar”, “sang pengajar tertinggi”, “sang pengajar dengan urutan yang tepat”, “seseorang yang telah menembus”, “seseorang yang telah secara luas menembus”, “seseorang yang telah sepenuhnya menembus”, “seseorang yang membimbing”, “seseorang yang secara luas membimbing”, “seseorang yang pada akhirnya membimbing”, “seseorang yang menjelaskan”, “seseorang yang secara luas menjelaskan”, “seseorang yang menjelaskan dalam urutan yang tepat”, “seseorang yang lurus”, “seseorang yang adalah seorang sahabat”, “seseorang yang benar-benar seorang teman”, “seseorang yang [seakan-akan ia adalah] sanak keluarga”, “seseorang yang dengan empati”, “seseorang yang berbelas kasih”, “sang pemandu menuju makna”, “seseorang yang menghibur”, “sang pemandu menuju kebahagiaan”, “sang pemandu menuju pengalaman”, “sang pemandu menuju kenyamanan”, “seseorang yang mengharapkan [kesejahteraan orang lain]”, “seseorang yang bersemangat”, “seseorang yang terampil”, “seseorang yang tekun”, “seseorang yang berani”, “seseorang yang kokoh”, “seseorang yang kuat”, “seseorang yang mampu”, “sang ahli”, “seseorang yang pikirannya tidak mundur”, “seseorang yang stabil”, “seseorang yang terus-menerus berlatih”, “seseorang yang tidak pernah lalai”, “seseorang yang rukun”, “seseorang yang penuh perhatian”, “seseorang yang mengingat kembali”, “seseorang yang tercerahkan”, “seseorang yang memahami”, “seseorang yang mengetahui”, “seseorang yang bijaksana”, “seseorang yang mau menerima”, “seseorang yang penuh kewaspadaan”, “seseorang yang berlatih kehidupan suci”, “seseorang yang berkembang dalam perhatian”, “seseorang dengan usaha benar”, “seseorang dengan landasan-landasan kekuatan batin”, “seseorang dengan indria-indria”, “seseorang dengan kekuatan-kekuatan”, “seseorang dengan faktor-faktor pencerahan”, “seseorang dengan faktor-faktor sang jalan”, “seseorang yang tenang”, “seseorang yang berpengetahuan mendalam”, “seseorang dengan perhatian terhadap tubuh”, “seseorang dengan perenungan benar”, juga seperti ini.