Saṃyuktāgama
212. Kotbah tentang Mengembangkan Ketekunan
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Aku tidak mengatakan kepada semua bhikkhu bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan, dan aku juga tidak mengatakan kepada semua bhikkhu bahwa mereka [seharusnya] tidak mengembangkan ketekunan.
“Sehubungan dengan jenis bhikkhu apakah aku tidak mengatakan bahwa ia [seharusnya] mengembangkan ketekunan? Jika seorang bhikkhu telah menjadi seorang arahant dan telah melenyapkan semua arus [kekotoran batin], ia bebas dari beban berat, telah memperoleh manfaatnya sendiri, melenyapkan semua belenggu kelangsungan, dan pikirannya telah terbebaskan dengan baik.
“Kepada jenis bhikkhu seperti ini aku tidak mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan. Mengapa demikian? Karena bhikkhu demikian telah menjalankan [pengembangan] ketekunan, mereka tidak dapat lagi melakukan hal-hal yang lalai. Karena aku sekarang melihat bahwa para yang mulia itu telah mencapai buah ketekunan, aku tidak mengatakan kepada mereka bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan.
“Sehubungan dengan jenis bhikkhu apakah aku mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan? Jika para bhikkhu berada pada tahap seorang siswa yang masih berlatih (sekha), mereka belum mencapai penenangan pikiran tertinggi dan [masih] berlanjut untuk menjadi berkembang dalam Nirvāṇa.
“Kepada jenis bhikkhu seperti ini aku mengatakan bahwa mereka [seharusnya] mengembangkan ketekunan. Mengapa demikian? Ketika seorang bhikkhu demikian berlatih dalam indria-indria dan menggembirakan pikirannya karenanya, diberkahi dengan kebutuhan hidup, dan bergaul dengan teman-teman baik, ia akan segera mencapai penghancuran arus-arus [kekotoran batin], pembebasan pikiran yang bebas-arus dan pembebasan melalui kebijaksanaan, dengan mengetahui di sini dan saat ini untuk dirinya sendiri dan merealisasi bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’
“Mengapa demikian? Sehubungan dengan bentuk yang dikenali oleh mata di mana ia mungkin menginginkannya dengan kesenangan dan menjadi terkotori oleh kemelekatan, ketika telah melihatnya bhikkhu itu tidak menyenanginya, tidak memujinya, tidak terkotori olehnya, dan tidak berkembang dalam ikatan kemelekatan. Ketika ia tidak menyenanginya, tidak memujinya, tidak terkotori olehnya, dan tidak berkembang dalam [ikatan] kemelekatan, ia dengan tekun maju dalam penenangan tubuh dan pikiran.
“Dengan pikiran yang sepenuhnya berkembang dalam kedamaian tanpa kelupaan, selalu terkonsentrasi dan terpusat pada satu hal, dengan sukacita tanpa batas dalam Dharma, tetapi masih mencapai pencapaian konsentratif yang tertinggi, ia pasti tidak akan mengalami kemunduran dengan mengikuti bentuk dengan mata. Sehubungan dengan [suara yang dikenali oleh] telinga … [bebauan yang dikenali oleh] hidung … [rasa yang dikenali oleh] lidah … [sentuhan yang dikenali oleh] badan … objek pikiran yang dikenali oleh pikiran juga seperti ini.”
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.