Saṃyuktāgama
123. Kotbah tentang Ketagihan, Kenikmatan, dan Nafsu
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Gunung Makula. Kemudian seorang bhikkhu pelayan bernama Rādha mendekati Sang Buddha, memberikan penghormatan pada kaki Sang Buddha, mengundurkan diri untuk duduk pada satu sisi, dan berkata kepada Sang Buddha:
“Adalah baik jika Sang Bhagavā mengajarkanku intisari Dharma secara ringkas. Setelah mendengarkan Dharma itu, aku akan menyendiri di suatu tempat yang sunyi dengan berfokus pada satu tujuan merenungkannya, menjadi berkembang di dalamnya tanpa lalai, [sehingga aku mencapai yang] demi tujuan di mana seorang putra anggota keluarga mencukur janggut dan rambut, mengenakan jubah yang dicelup pada tubuhnya, pergi meninggalkan keduniawian demi keyakinan benar menuju keadaan tanpa rumah, melihat Dharma dan dengan diri sendiri mengetahui dan merealisasi bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada Rādha: “Adalah baik, Rādha, bahwa engkau dapat menanyakan suatu permasalahan demikian di hadapan Sang Buddha. Dengarkanlah dan perhatikan dengan seksama pada apa yang akan kukatakan kepadamu. Rādha, engkau seharusnya memahami identitas (sakkāya), munculnya identitas, lenyapnya identitas, dan jalan menuju lenyapnya identitas.
“Apakah identitas? Yaitu, ini adalah lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati – kelompok unsur bentuk jasmani yang dilekati … perasaan … persepsi … bentukan … kelompok unsur kesadaran yang dilekati.
“Apakah munculnya identitas? Yaitu, ini adalah ketagihan yang bergabung dengan nafsu dan kenikmatan terhadap kemenjadian yang akan datang, dengan menyenangi dengan ketagihan di sini dan di sana. Ini disebut munculnya identitas.
“Apakah lenyapnya identitas? Yaitu, ini adalah meninggalkan tanpa sisa, melepaskan, memuntahkan, melenyapkan, memudarnya, penenangan, dan hancurnya ketagihan yang bergabung dengan nafsu dan kenikmatan terhadap kemenjadian yang akan datang, dengan menyenangi dengan ketagihan di sini dan di sana. Ini disebut lenyapnya identitas.
“Apakah jalan menuju lenyapnya identitas? Yaitu, ini adalah jalan mulia berunsur delapan – pandangan benar, kehendak benar, ucapan benar, perbuatan benar, penghidupan benar, usaha benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar. Ini disebut jalan menuju lenyapnya identitas.
“Engkau seharusnya memahami identitas, engkau seharusnya meninggalkan munculnya identitas, engkau seharusnya merealisasi lenyapnya identitas, dan engkau seharusnya mengembangkan jalan menuju lenyapnya identitas.
“Rādha, jika seorang siswa mulia yang terpelajar telah memahami dan meninggalkan identitas, telah memahami dan meninggalkan munculnya identitas, telah memahami dan merealisasi lenyapnya identitas, telah memahami dan mengembangkan jalan menuju lenyapnya identitas, Rādha, [maka] ia dikatakan telah meninggalkan ketagihan, telah terbebaskan dari ketagihan, telah menghentikan kelanjutan belenggu, telah sepenuhnya memahami (abhisameti) keangkuhan, dan [telah mencapai] terlampauinya dukkha yang tiada bandingnya.”
Mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat. Ia bangkit dari tempat duduknya, memberikan penghormatan, dan pergi. Setelah diajarkan oleh Sang Bhagavā dengan cara ini, bhikkhu Rādha menyendiri di suatu tempat yang sunyi dengan berfokus pada satu tujuan merenungkannya. [Ia mencapai yang] demi tujuan di mana seorang putra anggota keluarga mencukur janggut dan rambut, mengenakan jubah yang dicelup, pergi meninggalkan keduniawian demi keyakinan benar menuju keadaan tanpa rumah untuk berlatih dalam sang jalan dan dengan semangat yang meningkat mengembangkan kehidupan suci. Ia melihat Dharma dan dengan diri sendiri mengetahui dan merealisasi bahwa: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi.’ Ia menjadi seorang arahant dengan pikiran yang terbebaskan dengan baik.
Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat.