Saṃyuktāgama

124. Kotbah Kedua tentang Māra

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Gunung Makula dengan seorang bhikkhu pelayan bernama Rādha.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada bhikkhu Rādha: “Para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua seharusnya direnungkan sebagai sepenuhnya [berada pada pihak] Māra. Apa pun perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua seharusnya direnungkan sebagai sepenuhnya [berada pada pihak] Māra.

“Rādha, apakah yang engkau pikirkan, apakah bentuk jasmani adalah kekal atau apakah ia tidak kekal?”

Ia menjawab: “Ia tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha bertanya lagi]: “Apa yang tidak kekal, apakah ia adalah dukkha?”

Ia menjawab: “Ia adalah dukkha, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha bertanya lagi]: “Apa yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar dalam hal ini akan menganggapnya sebagai diri?”

Ia menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Oleh sebab itu, Rādha, seorang siswa mulia yang terpelajar membangkitkan kekecewaan terhadap bentuk jasmani, membangkitkan kekecewaan terhadap perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran. Karena menjadi kecewa, ia tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, ia menjadi terbebaskan. Dengan terbebaskan, ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bhikkhu Rādha bergembira dan menerimanya dengan hormat.