Saṃyuktāgama

185. Kotbah tentang Kebosanan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang tanpa sisa. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu. Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu? Yaitu, seseorang seharusnya, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal, mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu. Demi tujuan melenyapkan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “seseorang seharusnya mengembangkan suatu ungkapan Dharma tentang ketiadaan nafsu”, dengan cara yang sama “ungkapan-ungkapan yang benar dan ungkapan Dharma tentang ketiadaan kebencian” dan “tentang ketiadaan delusi”, delapan kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

Seperti halnya dua puluh empat kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, dua puluh empat kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.