Saṃyuktāgama

186. Kotbah tentang Ketenangan

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya jika serban seseorang terbakar oleh api, apakah yang dapat membantunya?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Sang Bhagavā, ia seharusnya membangkitkan keinginan, ketekunan, dan semangat tertinggi pada waktu itu untuk membantunya guna memadamkan api itu.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Walaupun seseorang mungkin masih lupa tentang serbannya yang terbakar, ia seharusnya memadamkan dan melenyapkan api ketidakkekalan yang sedang berkembang. Demi tujuan melenyapkan api ketidakkekalan, seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan (samatha). Demi tujuan melenyapkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan? Yaitu, demi tujuan melenyapkan bentuk jasmani yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan. Demi tujuan melenyapkan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran yang tidak kekal seseorang seharusnya mengembangkan ketenangan.”

Dengan cara ini diulangi secara lengkap sampai dengan: Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa depan”, apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa depan dan masa sekarang”, “apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang”, [kotbah-kotbah] juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya delapan kotbah tentang “mengembangkan ketenangan”, dengan cara yang sama untuk “mengembangkan pandangan terang”, delapan kotbah juga diulangi seperti di atas.

Seperti halnya enam belas kotbah tentang “seseorang seharusnya melenyapkan”, dengan cara yang sama untuk “seseorang seharusnya memahami”, “seseorang seharusnya memuntahkan keluar”, “seseorang seharusnya memadamkan”, “seseorang seharusnya mengakhiri”, “seseorang seharusnya melepaskan”, “seseorang seharusnya menghentikan”, “seseorang seharusnya menghilangkan”, enam belas kotbah juga diulangi untuk masing-masing dari ini seperti di atas.

[Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu:]

“Ini seharusnya dipahami sebagaimana adanya bahwa apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya].

Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

Seorang siswa mulia terpelajar yang dengan benar merenungkan dengan cara ini membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran. Dengan menjadi kecewa, ia tidak menyenanginya. Karena tidak menyenanginya, ia terbebaskan. Dengan terbebaskan ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.

Seperti halnya “apa yang tidak kekal”, dengan cara yang sama untuk “apa yang bergemetar”, “apa yang berputar-putar”, “apa yang berpenyakit”, “apa yang melapuk”, “apa yang dengan cepat dilemparkan”, “apa yang membusuk”, “apa yang adalah bahaya langsung”, “apa yang tidak bertahan [lama]”, “apa yang tidak damai”, “apa yang berubah”, “apa yang menyebabkan kesengsaraan”, “apa yang adalah malapetaka”, “apa yang adalah kejahatan Māra”, “apa yang berada dalam kekuasaan Māra”, “apa yang adalah perlengkapan Māra”, “apa yang bagaikan busa”, “apa yang bagaikan gelembung”, “apa yang bagaikan batang pohon pisang”, “apa yang bagaikan ilusi sihir”, “apa yang lemah”, “apa yang merusak”, “apa yang adalah serangan pembunuh”, “apa yang [bagaikan] sebilah pedang”, “apa yang dirudung keirihatian”, “apa yang memiliki ciri menjadi rusak”, “apa yang menyusut”, “apa yang tua renta”, “apa yang adalah belenggu”, “apa yang terpukul”, “apa yang adalah luka ganas”, “apa yang adalah bisul”, “apa yang adalah duri tajam”, “apa yang adalah kesengsaraan”, “apa yang adalah hukuman”, “apa yang adalah rintangan”, “apa yang adalah kesempatan bagi kesedihan”, “apa yang menyedihkan”, “apa yang adalah teman buruk”, “apa yang adalah dukkha”, “apa yang kosong”, “apa yang bukan diri”, “apa yang bukan milik diri”, “apa yang adalah musuh”, “apa yang adalah rantai”, “apa yang tidak bermanfaat”, “apa yang tidak nyaman”, “apa yang adalah siksaan”, “apa yang tidak menyediakan bantuan”, “apa yang bukan suatu pulau [perlindungan]”, “apa yang tidak [menyediakan] pelindung”, “apa yang tidak dapat dipercaya”, “apa yang bukan perlindungan”, “apa yang bersifat kelahiran”, “apa yang bersifat usia tua”, “apa yang bersifat penyakit”, “apa yang bersifat kematian”, “apa yang bersifat dukacita”, “apa yang bersifat dirudung oleh dukkha”, “apa yang bersifat tidak berdaya”, “apa yang bersifat lemah”, “apa yang bersifat tidak diinginkan”, “apa yang bersifat menggoda”, “apa yang bersifat [perlu] disembuhkan”, “apa yang bersifat dukkha”, “apa yang bersifat dapat membunuh”, “apa yang bersifat menjengkelkan”, “apa yang bersifat demam”, “apa yang bersifat memiliki karakteristik”, “apa yang bersifat tertiup”, “apa yang bersifat digenggam”, “apa yang bersifat jurang yang dalam”, “apa yang bersifat kesulitan yang kasar”, “apa yang bersifat salah”, “apa yang bersifat kejam”, “apa yang bersifat dengan nafsu”, “apa yang bersifat dengan kebencian”, “apa yang bersifat dengan delusi”, “apa yang bersifat goyah”, “apa yang bersifat terbakar”, “apa yang bersifat halangan”, “apa yang bersifat bencana”, “apa yang bersifat muncul”, “apa yang bersifat lenyap”, “apa yang bersifat [seperti] tumbukan tulang”, “apa yang bersifat [seperti] sepotong daging”, “apa yang bersifat memegang sebuah obor [yang menyala] [melawan angin]”, “apa yang bersifat lubang yang berapi-api”, “apa yang bagaikan seekor ular berbisa”, “apa yang bagaikan mimpi”, “apa yang bagaikan pinjaman”, “apakah yang bagaikan buah di sebuah pohon”, “apa yang bagaikan tukang jagal sapi”, “apa yang bagaikan pembunuh”, “apa yang bagaikan disentuh oleh embun”, “apa yang bagaikan air yang menggenang”, “apa yang bagaikan arus deras”, “apa yang bagaikan benang yang dipintal”, “apa yang bagaikan roda yang bergerak di air”, “apa yang bagaikan tongkat yang dilemparkan ke atas [ke udara]”, “apakah yang bagaikan botol dengan racun”, “apa yang bagaikan batang pohon yang diracun”, “apa yang bagaikan bunga yang diracun”, “apa yang bagaikan buah yang diracun”, “apa yang tergoyahkan oleh kesengsaraan”.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, engkau seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang” … sampai dengan … “untuk melenyapkan apa yang tidak kekal dan berasal dari masa lampau, masa depan, dan masa sekarang” … sampai dengan … “menghentikannya” dan “menghilangkannya”.

“Demi tujuan melenyapkan … sampai dengan … menghilangkan dan menghilangkan keadaan-keadaan apakah yang tidak kekal kalian seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang? Yaitu, demi tujuan melenyapkan … sampai dengan … menghentikan dan menghilangkan bentuk jasmani masa lampau, masa depan, dan masa sekarang engkau seharusnya mengembangkan ketenangan dan pandangan terang. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Oleh karena itu ia seharusnya dipahami sebagaimana adanya bahwa apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, ini semua adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [di dalam diri, ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran juga seperti ini.

“Seorang siswa mulia terpelajar yang merenungkan dengan cara ini membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan bentuk jasmani, membangkitkan kekecewaan sehubungan dengan perasaan … persepsi … bentukan … kesadaran. Karena menjadi kecewa ia tidak menyenanginya, karena tidak menyenanginya ia terbebaskan. Dengan terbebaskan ia mengetahui dan melihat: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan lebih jauh lagi’.”

Ketika Sang Buddha telah mengucapkan kotbah ini, mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, para bhikkhu bergembira dan menerimanya dengan hormat.