Saṃyuktāgama

265. Kotbah tentang Gelembung dan Buih

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Ayojjhā, di tepi sungai Gangga.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Seperti halnya kumpulan buih yang terhanyut-hanyut pada gelombang besar yang muncul pada sungai Gangga, dan seorang yang berpenglihatan baik dengan seksama menyelidiki dan menganalisisnya. Pada waktu dengan seksama menyelidiki dan menganalisis, [ia menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang kokoh atau hakiki dalam sekumpulan buih.

“Dengan cara yang sama, dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisis apa pun bentuk jasmani, masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, seorang bhikkhu [menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan; ia bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuh, ia tidak kekal, dukkha, kosong, dan bukan diri. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam bentuk jasmani.

“Para bhikkhu, seperti halnya selama banjir besar terdapat gelembung-gelembung pada [permukaan] air, yang muncul dan lenyap satu setelah yang lainnya, dan seorang yang berpenglihatan baik dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya. Pada waktu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, [ia menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, mereka tidak memiliki kepadatan. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam gelembung-gelembung air.

“Dengan cara yang sama,seorang bhikkhu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisis apa pun perasaan, masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat. Ketika dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, bhikkhu itu [menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan; ia bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuh, ia tidak kekal, dukkha, kosong, dan bukan diri. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam perasaan.

“Para bhikkhu, seperti halnya ketika menjelang akhir musim semi atau awal musim panas, pada tengah hari ketika matahari [bersinar] kuat dan tidak ada awan dan tidak hujan, sebuah fatamorgana berkilauan muncul, dan seorang yang berpenglihatan baik dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya. Pada waktu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, [ia menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam sebuah fatamorgana.

“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisis apa pun persepsi, masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat. Ketika dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, bhikkhu itu [menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan; ia bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuh, ia tidak kekal, dukkha, kosong, dan bukan diri. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam persepsi.

“Para bhikkhu, seperti halnya seorang yang berpenglihatan baik yang membutuhkan inti kayu memegang sebuah kapak tajam dan memasuki sebuah hutan [di atas] gunung, di mana ia melihat sebatang pohon pisang raja besar yang tebal, lurus, dan tinggi. Ia memotongnya pada akarnya, membelah puncak pohonnya dan perlahan-lahan melepaskan daun demi daunnya, di mana semuanya tanpa inti yang padat, dan ia dengan seksama memeriksa, memperhatikan, dan menganalisisnya. Pada waktu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, [ia menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam sebatang pohon pisang raja.

“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisis apa pun bentukan, masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat. Ketika dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, bhikkhu itu [menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, mereka tidak memiliki kepadatan; mereka bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuh, mereka tidak kekal, dukkha, kosong, dan bukan diri. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam bentukan.

“Para bhikkhu, seperti halnya seorang ahli sulap atau murid seorang ahli sulap pada persimpangan jalan menciptakan ilusi sulap dari sekumpulan pasukan gajah, sekumpulan pasukan kuda, sekumpulan pasukan kereta, dan sekumpulan pasukan pejalan kaki, dan seorang yang berpenglihatan baik dengan seksama memeriksa, memperhatikan, dan menganalisisnya. Pada waktu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, [ia menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam sebuah ilusi sulap.

“Dengan cara yang sama, seorang bhikkhu dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisis apa pun kesadaran, masa lampau, masa depan, atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat. Ketika dengan seksama menyelidiki, memperhatikan, dan menganalisisnya, bhikkhu itu [menemukan bahwa] tidak ada apa-apa di dalamnya, tidak ada yang tetap, tidak ada yang hakiki, ia tidak memiliki kepadatan; ia bagaikan penyakit, bagaikan bisul, bagaikan duri, bagaikan pembunuh, ia tidak kekal, dukkha, kosong, dan bukan diri. Mengapa demikian? Ini karena tidak ada yang padat atau hakiki dalam kesadaran.”

Pada waktu itu Sang Bhagavā, yang bermaksud menekankan makna dari apa yang telah Beliau katakan, mengucapkan bait-bait syair berikut ini:

“Renungkanlah bentuk jasmani seperti sekumpulan buih,
perasaan seperti gelembung-gelembung pada air,
persepsi seperti cahaya yang berkilauan pada musim semi,
bentukan seperti [sebatang pohon] pisang raja,
dan sifat kesadaran apa pun seperti sebuah ilusi sulap,
seperti yang dijelaskan Kerabat Matahari.

“Dengan hati-hati memperhatikannya dari semua sisi,
dengan perhatian benar menyelidikinya dengan baik,
ia [ditemukan sebagai] tidak hakiki dan tanpa kepadatan,
tidak ada diri atau apa yang menjadi milik diri
dalam kumpulan fisik ini, yang adalah dukkha.

“Yang Maha Bijaksana telah menganalisis dan menjelaskan bahwa,
kehilangan tiga hal,
tubuh akan menjadi hal yang ditinggalkan:
Vitalitas, panas dan kesadaran apa pun,
kehilangan hal-hal ini, tubuh yang tersisa ini berserakan
dan selamanya terbuang di kuburan atau pemakaman,
bagaikan sebatang kayu, tanpa persepsi kesadaran.

“Tubuh ini selalu seperti ini
bersifat ilusi dan tidak nyata, yang memikat orang-orang bodoh.
Ia bagaikan seorang pembunuh, bagaikan duri beracun,
tanpa kepadatan apa pun.

“Bagi seorang bhikkhu yang dengan bersemangat mengembangkan
perenungan terhadap kelompok unsur kehidupan bentuk jasmani ini,
siang dan malam terus-menerus terlibat di dalamnya
dengan pemahaman benar dan perhatian tenang yang berkembang,
bentukan-bentukan berkondisi akan ditenangkan
dan ia selamanya mencapai tempat yang damai.”

Kemudian para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang telah dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.