Saṃyuktāgama

266. Kotbah Pertama tentang Tidak Mengetahui

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Saṃsāra adalah tanpa sebuah awal, perputaran selama waktu yang lama dari mereka yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tanpa memahami awal mula dukkha ini.

“Terdapat suatu masa ketika tidak hujan selama waktu yang lama dan ratusan tanaman padi-padian dan tumbuhan yang tumbuh di bumi semuanya mengering sepenuhnya. Para bhikkhu, namun bagi makhluk-makhluk hidup yang berputar-putar dalam saṃsāra, yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tidak ada akhir dari belenggu ketagihan [dengan itu], tidak ada pelenyapan dukkha dan membuat akhir darinya [dengan itu].

“Para bhikkhu, terdapat suatu masa ketika tidak hujan selama waktu yang lama dan air pada samudera raya menjadi habis sama sekali. Para bhikkhu, [namun] bagi makhluk-makhluk hidup yang berputar-putar dalam saṃsāra, yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tidak ada akhir dari belenggu ketagihan [dengan itu], tidak ada pelenyapan dukkha dan membuat akhir darinya [dengan itu].

“Para bhikkhu, terdapat suatu masa ketika, setelah waktu yang lama, Sineru, raja para gunung, sepenuhnya runtuh. [Namun] bagi makhluk-makhluk hidup yang berputar-putar dalam saṃsāra, yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tidak ada akhir dari belenggu ketagihan [dengan itu], tidak ada pelenyapan dukkha dan membuat akhir darinya [dengan itu].

“Para bhikkhu, terdapat suatu masa ketika, setelah waktu yang lama, bumi yang besar ini sepenuhnya hancur. Tetapi, bagi makhluk-makhluk hidup yang berputar-putar dalam saṃsāra, yang dirintangi oleh ketidaktahuan dan terikat oleh belenggu ketagihan, tidak ada akhir dari belenggu ketagihan [dengan itu], tidak ada pelenyapan dukkha dan membuat akhir darinya [dengan itu].

“Para bhikkhu, seperti halnya seekor anjing diikat pada sebatang tonggak. [Karena] belenggu itu tidak berat, selama waktu yang lama [anjing itu] berputar-putar di sekitar tonggak itu, mengelilingi dan berputar-putar di sekitarnya.

“Dengan cara yang sama, para bhikkhu, makhluk-makhluk hidup yang bodoh yang tidak memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani, selama waktu yang lama mengelilingi dan berputar-putar di sekitar bentuk jasmani.

Dengan cara yang sama tidak memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran, selama waktu yang lama [makhluk-makhluk hidup yang bodoh] mengelilingi dan berputar-putar di sekitar kesadaran.

“Para bhikkhu, [makhluk-makhluk hidup yang bodoh] mengikuti dan berputar-putar di sekitar bentuk jasmani, mengikuti dan berputar-putar di sekitar perasaan, mengikuti dan berputar-putar di sekitar persepsi, mengikuti dan berputar-putar di sekitar bentukan, mengikuti dan berputar-putar di sekitar kesadaran. Karena mengikuti dan berputar-putar di sekitar bentuk jasmani, mereka tidak dapat terbebaskan dari bentuk jasmani. Karena mengikuti dan berputar-putar di sekitar perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, mereka tidak terbebaskan dari kesadaran. Karena tidak terbebaskan darinya, mereka tidak terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.

“Seorang siswa mulia yang terpelajar memahami sebagaimana adanya bentuk jasmani, munculnya bentuk jasmani, lenyapnya bentuk jasmani, kepuasan dari bentuk jasmani, bahaya dalam bentuk jasmani, dan jalan keluar dari bentuk jasmani. Ia memahami sebagaimana adanya perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, munculnya kesadaran, lenyapnya kesadaran, kepuasan dari kesadaran, bahaya dalam kesadaran, dan jalan keluar dari kesadaran. Oleh sebab itu ia tidak mengikuti dan berputar-putar di sekitar [bentuk jasmani… perasaan… persepsi… bentukan…] kesadaran.

“Karena tidak mengikuti dan berputar-putar di sekitar dan berputar-putar di sekitarnya, ia terbebaskan dari bentuk jasmani, terbebaskan dari perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran. Aku katakan, ia terbebaskan dari kelahiran, usia tua, penyakit, kematian, kekhawatiran, dukacita, kekesalan, dan kesakitan.”

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.