Saṃyuktāgama

269. Kotbah tentang Hutan Jeta

Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.

Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Fenomena yang bukan milik kalian seharusnya ditinggalkan sepenuhnya. Setelah meninggalkannya fenomena itu, selama waktu yang lama kalian akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan. Para bhikkhu, apakah fenomena yang bukan milik kalian, yang seharusnya kalian tinggalkan secepatnya? Dengan cara ini, bentuk jasmani… perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran bukan milik kalian, kalian seharusnya meninggalkannya sepenuhnya. Setelah melepaskan fenomena ini, selama waktu yang lama kalian akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan.

“Seperti halnya jika seseorang membelah dan memotong cabang-cabang dan ranting dari pepohonan di Hutan Jeta, mengambilnya dan membawanya pergi. Kalian tidak akan terganggu atau bersedih. Mengapa demikian? Ini karena [bagi kalian] pepohonan itu bukan “aku” dan “bukan milikku”.

“Dengan cara ini, para bhikkhu, apa yang bukan milik kalian seharusnya ditinggalkan sepenuhnya. Setelah meninggalkannya, selama waktu yang lama kalian akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan. Apakah itu, yang bukan milik kalian dan yang seharusnya kalian [tinggalkan]? Bentuk jasmani bukan milik kalian, kalian seharusnya meninggalkannya sepenuhnya. Setelah meninggalkannya, selama waktu yang lama kalian akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan. Dengan cara yang sama perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran bukan milik kalian, kalian seharusnya meninggalkannya secepatnya. Setelah meninggalkannya, selama waktu yang lama kalian akan memiliki kedamaian dan kebahagiaan.

“Para bhikkhu, apakah bentuk jasmani kekal atau tidak kekal?”

Para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha: “Tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Para bhikkhu, apakah yang tidak kekal, apakah itu dukkha?”

[Para bhikkhu] menjawab: “Dukkha, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Apakah yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini melihatnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

[Para bhikkhu] menjawab: “Tidak, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkata]: “Dengan cara yang sama, apakah perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran kekal atau tidak kekal?”

[Para bhikkhu] menjawab: “Tidak kekal, Sang Bhagavā.”

[Sang Buddha berkatak kepada] para bhikkhu: “Apakah yang tidak kekal, apakah ia dukkha?”

[Para bhikkhu] menjawab: “Dukkha, Sang Bhagavā.”

Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: “Apakah yang tidak kekal, dukkha, bersifat berubah-ubah, apakah seorang siswa mulia yang terpelajar di sini melihatnya sebagai diri, sebagai berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], sebagai ada [dalam diri, atau diri] sebagai ada [di dalamnya]?”

[Para bhikkhu] berkata: “Tidak, Sang Bhagavā.”

“Oleh karena itu, para bhikkhu, apa pun bentuk jasmani, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun suatu diri] ada [di dalamnya]. Dengan cara yang sama perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran, apakah masa lampau, masa depan atau masa sekarang, internal atau eksternal, kasar atau halus, indah atau menjijikkan, jauh atau dekat, semua itu adalah bukan diri, tidak berbeda dari diri [dalam pengertian dimiliki olehnya], tidak ada [dalam diri ataupun suatu diri] ada [di dalamnya].

“Seorang siswa mulia merenungkan lima kelompok unsur kehidupan yang dilekati ini sebagai bukan diri atau [bukan] milikku. Ketika merenungkan dengan cara ini, ia tidak menggenggam apa pun di seluruh dunia dengan kemelekatan. Seseorang yang tidak menggenggam apa pun dengan kemelekatan karenanya mencapai Nirvāṇa, [dengan mengetahui]: ‘Kelahiran bagiku telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dikembangkan, apa yang harus dilakukan telah dilakukan, aku sendiri mengetahui bahwa tidak akan ada kelangsungan yang lebih jauh lagi.’”

Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.