Saṃyuktāgama
270. Kotbah tentang Pohon
Demikianlah telah kudengar. Pada suatu ketika Sang Buddha sedang berdiam di Sāvatthī di Hutan Jeta, Taman Anāthapiṇḍika.
Pada waktu itu Sang Bhagavā berkata kepada para bhikkhu: “Persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, banyak dilatih, memungkinkan seseorang meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya seorang petani pada akhir musim panas, pada musim gugur, pertama-tama membajak tanah dengan dalam untuk menyingkap akar-akaran dan membersihkan rumput. Dengan cara yang sama, para bhikkhu, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Para bhikkhu, seperti halnya jika seseorang yang memotong rumput memegangnya pada salah satu ujungnya dengan tangan, mencabutnya dan mengguncangkannya, untuk membersihkan dari semua bagian yang kering dan layu, dan [kemudian] mengambilnya [seluruhnya] untuk kepala rumah tangga. Dengan cara yang sama, para bhikkhu, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya ketika angin kencang mengguncang cabang-cabang sebatang pohon dengan buah-buah mangga dan semua buahnya jatuh. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya sebuah rumah dengan atap runcing yang [tiang] tengahnya padat dan kokoh. Dengan bergantung pada berbagai kasau, ia menahan mereka sehingga mereka tidak lepas. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya di antara jejak kaki semua makhluk hidup, jejak kaki seekor gajah adalah yang terbesar, karena ia dapat memuat mereka [semua]. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya semua sungai di Jambudīpa mengalir menuju samudera raya dan samudera raya adalah yang terbesar dan yang pertama, karena ia dapat menampung mereka semua. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya ketika matahari terbit, ia dapat menghalau semua kegelapan di dunia. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Seperti halnya seorang raja pemutar roda yang mulia, yang tertinggi di antara semua raja yang lebih kecil, yang paling terkemuka. Dengan cara yang sama, persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan seseorang untuk meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan.
“Para bhikkhu, melatih dengan cara apakah persepsi ketidakkekalan, yang dilatih, yang banyak dilatih, memungkinkan meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan?
“Seumpamanya seorang bhikkhu pada sebuah tanah lapang yang terbuka atau di antara pepohonan memberikan pengamatan dengan baik pada dan merenungkan bentuk jasmani sebagai tidak kekal… perasaan… persepsi… bentukan… kesadaran sebagai tidak kekal.
“Dengan memberikan pengamatan dengan cara ini ia akan meninggalkan semua ketagihan terhadap kenikmatan indera, ketagihan terhadap bentuk, ketagihan terhadap tanpa bentuk, kegelisahan, kesombongan, dan ketidaktahuan. Mengapa demikian? Seseorang yang memiliki persepsi kematian dapat mengembangkan persepsi bukan diri. Seorang siswa mulia yang telah mengembangkan persepsi bukan diri akan memisahkan pikiran dari kesombongan “aku” dan meneruskan untuk mencapai Nirvāṇa.”
Ketika Sang Buddha mengucapkan kotbah ini, para bhikkhu, yang mendengarkan apa yang dikatakan Sang Buddha, bergembira dan menerimanya dengan hormat.